Untitled Tragedy, The 1st

NVRstepback. Oy oy oy! Ada cerita baruu! Silakan dibaca ya, mumpung bisa nulis judul baru nih. Jarang-jarang bisa dapet inspirasi kayak gini. Eitss, tapi ini cerbung lho yah, jadi harus sabar karena lanjutannya bakal rada lama postingnya.. Udah ah ngemengnyah, selamat membacaaa... :D


Title : Untitled Tragedy, The 1st
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Sadness, Love




Sam masih duduk termenung sendiri di halaman belakang rumahnya. Di sampingnya terlihat sebuah boneka kucing warna putih. Mata Sam sesekali melirik boneka itu. Lalu dia pun meraih boneka itu, dipandangnya dalam-dalam. Sam kemudian memejamkan mata, diletakkannya kembali boneka kucing itu ke tempatnya. Tangan Sam mencoba meraih sesuatu di saku celananya, sebuah korek api. Diambilnya lagi boneka kucing putih itu, kemudian dia membakarnya.
Perlahan, api mulai memakan habis boneka kucing putih itu. Sam hanya duduk melihat aksi api itu. Seiring dengan api yang terus menyala, dari mata Sam mulai mengalir air mata. Diiringi senyuman getir, Sam meninggalkan boneka kucing putih itu.
***
Hari sudah petang. Lampu ruang tengah masih belum menyala. Satu-satunya cahaya yang ada di rumah itu adalah cahaya dari dalam kamar Sam. Cahaya redup dari sebuah lampu bohlam kecil. Cahaya yang tentu saja tak akan cukup untuk menerangi seisi kamar Sam sekalipun.
Tempat tidur tempat Sam berbaring pun hanya terlihat samar. Sam terbaring telentang, dengan pandangannya kosong menatap kehampaan yang ada di hadapannya saat ini. Air matanya sudah kering. Perlahan, Sam bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati meja, lalu meraih ponselnya. 9 Missed Calls dan 14 Unread Messages tak membuat Sam berminat membuka ponselnya.
Dengan masih menggenggam ponselnya, Sam melangkah perlahan menuju jendela kamarnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena ponselnya tiba-tiba bergetar. Ellena, begitu tertulis di layar ponsel. Tapi Sam tak menerima panggilan itu. Di samping jendela kamarnya, terlihat jelas langit malam yang muram, tanpa ada cahaya bulan dan kerlip bintang. Sam menarik nafas panjang, lalu kemudian…Prakk!!!! Dia membalikkan badan kemudian melempar ponselnya tepat ke tembok kamarnya.
Sam kembali tersenyum getir melihat hal itu. Dia perlahan melangkah kembali ke tempat tidurnya.
***
Jam di dinding menunjukkan pukul 08.00. Sam sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Sam hari ini. Rambutnya tak lagi disisir rapi, dibiarkan acak-acakan menutupi telinga dan matanya. Kemeja putih lengan pendeknya berubah menjadi kaus hitam dengan corak warna merah darah, dibalut jaket hitam polos. Celana skinny yang jarang sekali dia pakai, kini dipakainya. Sepatu keds hitam, selesai dipakainya. Dia pun melangkah keluar rumah menuju kampus.
Di kampus, Sam lebih banyak diam. Tak lagi aktif bertanya ketika di kelas, rajin berdiskusi membahas tugas, ataupun bercanda bersama teman-temannya ketika jam istirahat. Waktunya dihabiskan duduk menyendiri di dalam perpustakaan, mendengarkan lagu-lagu yang mengalun dari ponselnya lewat headphone yang terpasang di telinganya. Tak ada lagi buku-buku tentang materi kuliah yang dia baca.
***
Jam 12.00, kelas terakhir untuk hari ini selesai. Sam bangkit perlahan dan mulai melangkah meninggalkan kursinya menuju pintu keluar kelas. Baru saja dia melangkahkan kaki kelaur dari ruang kelas, ada tangan yang meraihnya. Sam menengok dan terkejut, ternyata Ellena.
“Sam.” Panggil Ellena. Namun Sam tak menjawab. Menatap Ellena pun tidak.
“Sam, tolong lihat aku. Sam!” kata Ellena agak keras. Sam akhirnya mau menoleh. Dengan tatapan kosong dia menatap wajah Ellena.
Dengan tidak bicara, Ellena kemudian menarik tangan Sam dan berjalan ke suatu tempat. Sam hanya mengikuti langkah Ellena. Sama sekali tak tersirat keinginan untuk menolak, juga keinginan untuk ingin tahu apa maksud Ellena.
***
Di sebuah koridor sepi di belakang laboratorium praktek kimia, Ellena menghentikan langkah kakinya. Sam ikut berhenti. Begitu lama mereka berdua tenggelam dalam diam. Tak satupun dari keduanya yang berbicara. Hanya tatapan mata yang terus beradu. Ellena melangkah mendekati Sam. Dengan perlahan memeluk tubuh Sam yang ada di depannya. Semakin erat dan semakin erat pelukan Ellena, tapi Sam hanya diam saja. Mata Sam terpejam kemudian tangannya mulai memeluk tubuh Ellena, begitu erat.
“Sayang, kau telah berhasil menghancurkan hatiku. Terima kasih.” Bisik Sam ke telinga Ellena, kemudian melepaskan pelukannya.
“Sam…” jawab Ellena kemudian menangis. Ellena tertunduk lemah. Tubuhnya tiba-tiba goyah, Ellena jatuh terduduk. Ada sesuatu yang sedang berkecamuk hebat di dalam hatinya. Ellena mulai mengangkat pandangannya mencoba memandang Sam yang masih berdiri di hadapannya, melihatnya terjatuh tanpa melakukan apapun.
“Sayang, bagaimana rasanya? Kau terjatuh, menangis kesakitan. Dan orang yang kau sayangi, yang ada di depanmu tak membantumu berdiri. Sakit bukan?” kata Sam yang perlahan mendekati Ellena.
“Kau pasti ingat apa yang sudah kau lakukan padaku. Sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari ini. Sesuatu yang telah menghancurkan rasa sayangku yang begitu besar padamu.” Lanjut Sam.
Ellena tertunduk, dengan air mata yang masih terus mengalir, ingatannya perlahan kembali ke peristiwa beberapa minggu yang lalu.
***
3 Minggu yang Lalu
“Jangan pergi…” pinta Sam kepada Ellena yang terus melangkah pergi.
“Maaf Sam, aku harus pergi dari sisimu. Aku memang menyayangimu. Tapi aku tak bisa bertahan bila terus seperti ini. Sampai jumpa, Sam.” Jawab Ellena sembari melangkah Sam yang berdiri termangu.
Dari kejauhan, terlihat sosok pria yang mengendari motor menjemput Ellena. Sam pun segera berlari mengejar Ellena. Namun, malang bagi Sam dia tak mampu mengejar Ellena yang sudah pergi bersama pria itu. Sam terus berlari sambil menangis, sampai akhirnya dia terjatuh dan hanya bisa melihat Ellena perlahan menghilang dari pandangannya. Sam menangis.
***
“Sam, maafkan aku…” pinta Ellena kepada Sam.
“Maaf? Kau meminta maaf padaku? Aku sudah terlalu sering memberikannya. Tapi kau tak pernah bisa menjaga kata maaf yang kuberikan. Sebaliknya, kau tak mau memberikan sedikit maafmu ketika aku melakukan sedikit kesalahan.” Jawab Sam.
“Tolong Sam, maafkan kesalahanku tempo hari. Aku sekarang sepenuhnya sadar kalau yang telah aku lakukan adalah kesalahan yang besar. Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.” Pinta Ellena sambil masih menangis.
Sam menarik nafas panjang, lalu mulai berbicara,” ketahuilah Ellena, sampai saat ini aku masih menyayangimu. Tapi aku sudah kehilangan hasrat untuk kembali bersamamu. Hasrat itu sudah ikut pergi bersama dengan kepergianmu dulu. Jadi sekarang, kau tak perlu mengharapkanku. Kau sudah bebas.”
Ellena tercekat mendengar perkataan Sam. Dia tak menyangka betapa Sam masih menyimpan rasa sayangnya, tapi dia sedih mendengar penuturan Sam yang menyuruhnya pergi. Perlahan, Ellena mulai bangkit berdiri. Dia berjalan perlahan mendekati Sam, lalu kembali memeluknya. Tanpa disangka, Sam langsung menyambut pelukan Ellena.
“Sam, aku menyayangimu.” Kata Ellena.
“Aku juga menyayangimu, Ellena.” Jawab Sam.
“Ellena, mungkin ini adalah pelukan terakhir kita. Aku akan pergi.” Kata Sam sambil melepaskan pelukannya. Ellena belum mengerti maksud perkataan Sam, tiba-tiba Sam menyerahkan sepucuk surat kepada Ellena.
“Apa ini, Sam?” tanya Ellena.
“Jangan kau buka. Bukalah saat aku benar-benar telah menghilang, dan kau tak mampu lagi menemukanku di manapun. Tapi aku ingin, kau jangan menangis saat membaca surat ini. Selamat tinggal… Sayang.” Jawab Sam sambil berlalu pergi.
Sam pun melangkah pergi, meninggalkan Ellena yang masih berdiri dengan beribu tanya di kepalanya. Tanya tentang surat pemberian Sam, ucapan perpisahan Sam, dan masih banyak lagi semua tentang Sam. Namun di balik itu semua, hati Ellena sedikit tenang karena tahu bahwa Sam masih menyayanginya. Matanya masih dengan setia melihat dan memperhatikan tubuh Sam yang secara perlahan menghilang di balik kaki langit.
Sam melangkah tanpa arah. Di wajahnya tersirat secuil senyuman. Bukan lagi senyuman getir, tapi sebuah senyuman bahagia yang muncul dari dalam harinya. Secara perlahan, langkahnya mulai melambat. Pandangannya mulai kabur. Telinganya tak mampu lagi mendengar hiruk pikuk yang ada di sekelilingnya. Peluh dingin mulai mengalir dari tubuhnya. Sejenak kemudian, tubuhnya tumbang. Sam tak sadarkan diri.

To be continued…

Silakan kasih komentarnya di kotak komentar. Bebas tapi sopan. Gak bakal kena tabok kok.. XD
Share:

#RandomPost - #RangkaiAbstrak | 26 Februari 2013


NVRstepback. Hari yang sangat-sangat sepi. Hati sepi? Udah biasa buat gue. Kesepian? Yah, udah akrab banget sih jadinya ya tetep enjoy. :D Lagi males nulis banyak-banyak, yaudah nih ada sedikit coretan. Coretan apa? Coretan #SelfMotivation buat gue sendiri.

Yang mau baca, silakaaan... :)


#RandomPost #RangkaiAbstrak

Mendung terpampang di ujung langit..
Surya gemetar gentar tak bersinar..
Bumi pun dingin gelap tanpa cahaya..

Aneh dan mengerikan..
Terjebak dalam gelap tanpa ada pelita..
Ayun langkah cita-cita pun terhenti..

Hidup hampa sayup bergemuruh..
Menengadah menatap hamparan hitam..
Kelam melebihi temaram kegelapan..

Namun jangan menyerah..
Selalu ada cahaya dari dalam lubuk gelap..
Tetap percaya pada asa dan harapan hati manusia..
Dan pula selalu ada Tuhan di sana..
Berjuang gapai cita demi yang tercinta.... '.')9

@NVRstepback


Ps.. Jangan pernah menyerah untuk meraih apa yang jadi mimpi dan cita-cita loe. Dedikasikan apa yang loe perjuangkan buat orang-orang yang loe sayangi, yaitu keluarga. Dengan begitu, gak akan ada kata 'nyerah' buat terus berjuang... Ganbare yo!! b(^.^)d

Feb 26th '13

Share:

#RandomPost - #KalaMalam | 25 Februari 2013


NVRstepback. Pengen posting blog ini, tapi sayangnya cerpen baru belom selesai. HIHI. Yah, nulis #RandomPost ajalah kalo gitu. Tapi nulis apaan ya? Ada yang punya ide gak buat tulisan baru di blog ini? Yah, gak ada yang punya ide ya? Yaudah deh. Gak usah nulis aja. Eh, tapi sayang dong kan udah buka dasbor mobil, #ehmaap, dasbor blogger maksudnyah =D Mari nulis asal2an ajaaaa.. MUAHAHAHAHA

Lusa, tepatnya hari Rabu tanggal 27 Februari <~ tagihan kost. #plakkk bukan! Tanggal 27 Februari diajak temen-temen. Bang Andy, bang Sabdo, sama bang Agung buat ngisi pensi di SMK Negeri 1 Boyolali <~ sekolah paling kecee. #PokPok :D. Nah lo, ada perasaan kalo ini cuma becanda, eh ternyata mereka ciyusss. OK, akhirnya dengan berat, ikut deh jadi bagian teriak-teriak (baca: vokal -red). Sip, besok Selasa latian terakhir.

Dan cuma 1 harapan gue. Semoga kalo seumpama jadi ngisi pensi dan jadi teriak-teriak (baca:nyanyi -red), orang-orang yang pada denger gak jadi sakit telinganya terus jadi budegg.. Aamiin.

Yaudah ah, nulis puisi aja yokkk... HIHI

#KalaMalam

Aku duduk diam sendirian..
Sentuhanmu lembut namun tanpa kehangatan..
Kulihat sekilas senyummu tapi justru menyesakkan..

Tertidur diselimuti angan kosong..
Buih-buih mimpi terbang merongrong..
Entah apa maksudnya, tapi hanya kiasan kosong..

Malam perlahan pudar..
Bintang terbakar dan lenyap..
Ternyata sang fajar datang lebih cepat..

Di mana harapanku kini bergantung?
Di langit? Bukan..
Di sisi sang fajar? Tak bisa..
Di mana?? Aku mulai lelah bertanya...

Ah, sudahlah....
Mungkin ini adalah jalanku..
Menanti kilau senja, bercerita dengan malam, bersembunyi dari baskara..
Jalanku.. Bukan jalanmu.. Bukan jalan orang lain.. Tapi, JALANKU.....

Share:

NEGATIVE THINKING, Apaan sih ituh???


NVRstepback. Eh, kok judulnya kayak gitu sih? Mungkin ada yg bertanya-tanya kayak gitu. (kalo ada sih ya..). OK, pengen cuap-cuap aja sih tentang fenomena yang paling mainstream di kalangan masyarakat, yaitu fenomena 'Negative Thinking'. Jadi yaa.. Gak ada salahnya dong? Betull??

'Negative Thinking' adalah pola pikir yang condong mengarah ke arah negatif, bukan positif. Memang, ada sedikit manfaat dari pola pikir ini. Ingat, cuma SEDIKIT. Yaitu, bisa menghindari sesuatu yang dianggap membahayakan. Okesih kalo emang sekedar antisipasi. Nah, kalo pada akhirnya 'Negative Thinking' jadi mengakar dan jadi pola pikir yang permanen, gimana dong? Cuma satu kata: BAHAYA.

'Negative Thinking' punya efek negatif, kayak namanya, ke segala arah. Gak cuma ke si thinker (orang dengan pola pikir negatif -red.) tapi juga ke orang-orang di sekitarnya. Contohnya nih, kalo si thinker lagi kenal sama orang. Terus, dia berpikiran negatif sama orang yang baru dia kenal. Di dalam kepalanya cuma ada 'jangan-jangan nih orang gini..' 'jangan-jangan nih orang gitu..' bisa berabe tuh. Gak jadi punya kenalan baru malah bisa aja dapet musuh baru.

Kalo menjalin hubungan khusus (baca: pacaran). Juga bisa bikin runyam level dewa nih 'Negative Thinking'. Umpamanya nih ya, pacar kamu lagi pergi sama temen-temennya nonton bareng pertandingan bola di salah satu rumah temennya. Nah, kamu jadi 'Negative Thinking' deh mikir yang enggak-enggak tentang pacar kamu. Kalo dia gini lah, kalo dia gitu lah. Itu tuh, salah satu akar dari sebuah perpecahan sebuah hubungan. OK lah kalo pacar kamu bisa ngertiin dan maafin kekhilafan kamu. Tapi gimana kalo dia jadi marah? Endingnya ---> Loe Gue End a.k.a. PUTUS.. Galau deh....

'Negative Thinking' itu musuh. Iya, MUSUH! Gak percaya? Gini deh, kita pikir bego-bego'an aja kalo gitu. Err... Gimana ya? Eng... Ah pusing ah, jadi bego beneran nanti. Yang jelas 'Negative Thinking' itu MUSUH yang harus dihindari. Jangan dideketin, karena bisa bikin diri kamu jadi manusia 'Negative'. Nahlo, emang mau diliat orang dengan pandangan negatif? Gak mau kan? Yaudah, jangan 'Negative Thinking' makanya..


Yaudah sih, jangan suka 'Negative Thinking'. Cuma nyiksa batin. Padahal nih ya, karo dirunut, pelaku 'Negative Thinking' tuh sebenernya nyiksa dirinya sendiri lho. Ga percaya? Yaudah sih kalo gak percaya. Pikir aja sendiri. Males juga ngejelasinnya.. HIHIHIHI

Udah ah nulisnya, lagi males nulis nih. Ada yang mau komen? Tuh di kotak komentar di bawah. Weitsss, bukan di bawah meja, tapi di bawah posting ini.. (-____-")

Dadahhh fans NVRstepback yang kece-keceee ....
Share:

Cerita Tentang Kita | CHAPTER - 10, 'Sayonara..'


Title : Cerita Tentang Kita
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Life, Romantis, Family

Kepergian Kenzo, dan ikatan yang disebut keluarga dan cinta.. Sedih sebenernya kalo harus nyampe sini aja..


Final CHAPTER, 'Sayonara..'

“Papa?” tanya Alea. Kenzo mengangguk. Dengan perlahan, dibukanya kotak itu. Isinya sebuah foto yang nampaknya telah disimpan cukup lama karena warnanya nampak sedikit memudar. Di foto itu terlihat sosok Alea kecil yang masih TK, sedang digendong oleh Papa. Tiba-tiba Alea memeluk Kenzo yang berdiri di depannya. Kenzo dapat mendengar suara lirih Alea yang sedang menangis.
“Ada apa Al?” tanya Kenzo lembut sambil melepas pelukan Alea.
“Alea kangen sama Papa kak.” Jawab Alea lirih di sela-sela isak tangisnya.
“Papa lagi sakit Al. Makanya Papa gak bisa dateng buat Alea.” Kata Kenzo. Alea berusaha mengusap air matanya.
“Sakit apa kak?” tanya Alea.
“Demam biasa aja kok sayang. Mama yang cerita. Eng..” Kenzo ragu melanjutkan kata-katanya.
“Ada apa kak?” tanya Alea.
“Kakak harus ke Jepang buat bantuin Papa di sana Al.” kata Kenzo dengan nada berat. Alea tak berkata apa-apa. Dia menunduk berusaha menyembunyikan air matanya.
“Kenapa kak? Kenapa kakak ninggalin Alea? Kalo Kakak sama Mama ke Jepang, Alea di sini sama siapa?” tanya Alea.
“Alea sayang. Yang ke sana cuma kakak. Mama bakal di sini nemenin Alea.” Jawab Kenzo. Mendengar jawaban Kenzo, Alea pun dapat menerima meskipun sedikit berat.
“Kak Kenzo mau pergi?” tanya Emily yang tiba-tiba muncul dari belakang Kenzo.
“Eh. Eng. I..iya Emily. Papaku butuh aku di sana.” Jawab Kenzo sedikit gugup.
Suasana hening. Alea menarik tangan Kenzo dan Emily, kemudian menyatukannya. Kenzo dan Emily pun kaget dengan apa yang dilakukan Alea.
“Kakak, sebelum kak Kenzo pergi, kakak harus jujur sama perasaan kakak. Perasaan kakak ke Emily. Begitu pula sebaliknya.” Kata Alea. Hal ini membuat Kenzo dan juga Emily terhenyak. Tiba-tiba muncul Evan diikuti Tara, dan Rara. Dan orang yang paling shock melihat pemandangan ini adalah, Rara. Akhirnya, Kenzo pun menarik nafas panjang. Kemudian mulai berbicara.
“Mily, apa yang bikin aku gak berani ngungkapin perasaanku adalah sebuah kejadian di masa lalu yang membuatku kehilangan keinginan untuk mencintai. Rasa sakit karena sesuatu yang orang sebut ‘rasa cinta’.” Kata Kenzo mengawali. Hal ini membuat Evan dan Tara kaget. Mereka berdua pun saling pandang. Masa lalu?
“Kenzo..” kata Evan. Kenzo menoleh ke arah Evan kemudian tersenyum.
“Ingatanku udah pulih Van. Aku udah inget semuanya dengan jelas.” Kata Kenzo.
“Tapi.. Sejak kapan?” tanya Evan.
“Setelah keluar dari rumah sakit. Ingatanku berangsur pulih seperti sedia kala. Lukisan itu, hujan deras. Dan semua tentang Rara. Aku inget semuanya. Gakpapa. Anggap semua itu sebagai masa lalu dan pelajaran buat kita.” Jawab Kenzo panjang lebar. Evan dan Tara pun tersenyum mengetahui kebesaran hati Kenzo. Rara yang tak mampu menahan perasaannya pun menangis dan kemudian memilih pergi.
“Mily, aku gak ingin kamu terbutakan oleh perasaan ini. Jujur, aku menemukan lagi rasa cinta dalam diriku setelah ketemu kamu. Tapi aku gak ingin kasih kamu janji-janji yang tinggi sedangkan aku belum mampu wujudkan.” Kata Kenzo ke Emily.
“Kak, aku akan nunggu kakak kembali ke sini lagi. Aku akan jaga perasaanku ke kakak.” Kata Emily. Kenzo dan Emiy pun saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Ciuman hangat mendarat di kening Emily. Semua yang ada di situ pun tertegun melihatnya, Emily pun sampai tak berani bergerak.
“Ehem. Kenzo udah nih Van. Sekarang giliran loe.” Kata Tara sambil menyenggol Evan yang dari tadi bengong.
“Apa-apaan sih loe kunyuk.” Kata Evan. Kenzo, Tara, dan Emily pun tersenyum melihat ekspresi Evan.
“Van, tolong jagain Alea.” Kata Kenzo. Evan menoleh ke arah Kenzo. Kenzo pun tersenyum dan mengangguk. Tapi Evan masih tampak malu-malu untuk mendekati Alea yang berdiri di samping Emily.
“Nunggu apaan lagi sih loe Van? Udah peluk aja gak usah malu-malu. Entar gue embat duluan lho. Haha.” Kata Tara kemudian berlari menjauh.
“Kunyuuuk!! Ke sini loe!!” teriak Evan berlari mengejar Tara. Hal itu pun membuat Kenzo, Emily, dan Alea tertawa terbahak.
***
Mentari hari ini tampak cerah bersinar. Awan tipis menggantung di langit dengan anggun. Entah kenapa, jalanan tampak begitu lengang sehingga mobil Mama dapat berjalan dengan lancar hingga bandara. Hari ini adalah hari di mana Kenzo akan berangkat ke Jepang. Mama, Alea, Emily, dan Evan mengantar Kenzo hingga ke bandara. Suasana tampak sunyi. Hanya alunan music mp3 dari player yang memenuhi seisi mobil. Tak ada satupun suara yang keluar dari mulut mereka. Hingga tiba di bandara.
“Ma, Kenzo berangkat dulu.” Kata Kenzo berpamitan kepada Mama, kemudian mencium tangan beliau dan memeluknya.
“Emily.” Panggil Kenzo ke Emily yang hanya tertunduk. Dengan gugup, Emily menengadahkan kepalanya.
“Iya kak Kenzo.” Jawab Emily. Kenzo langsung memeluknya. Emily pun memeluk tubuh Kenzo dan tersenyum. Ada bulir air mata yang tertahan di ujung matanya.
“Van. Tolong janji ke gue, loe bakal jagain Alea sampai gue balik ke sini lagi.” Kata Kenzo ke Evan sambil memegang kedua pundak Evan. Evan pun mengangguk dengan mantap.
“Kenzo, loe bisa pegang janji gue.” Kata Evan kemudian menjabat tangan Kenzo. Kenzo pun tersenyum. Dia kemudian berhadapan dengan Alea.
“Alea.” Kata Kenzo sambil membungkukkan badannya. Dia ingin melihat wajah adik yang sangat dia sayangi itu sebelum berangkat. Tapi Alea memalingkan wajahnya. Dengan segera, Kenzo membalik badan Alea. Tampak air mata Alea yang mengalir begitu deras. Tanpa terasa, air mata Kenzo pun ikut mengalir.
“Kakak!” Teriak Alea sambil memeluk Kenzo hingga Kenzo hampir saja terjatuh.
“Kakak gak akan lama Al.” kata Kenzo berusaha membesarkan hati Alea. Pelukan Alea makin erat.
“Janji?” tanya Alea.
“Janji.” Jawab Kenzo. Alea pun melepaskan pelukannya. Tiba-tiba Kenzo menyerahkan sesuatu kepada Alea. Sebuah surat. Saat Alea akan membukanya, Kenzo melarang.
“Kenapa kak?” tanya Alea heran.
“Buka kalo Alea udah gak bisa nahan kangen Alea ke kakak ya.” Jawab Kenzo. Alea pun mengangguk pelan. Dengan langkah berat, Kenzo mulai berjalan pergi.
Lambaian tangan terakhir Kenzo, menandai kepergiannya. Mama dan Evan tersenyum. Alea dan Emily berpelukan, berusaha saling menguatkan hati melihat orang yang begitu berharga bagi mereka akan pergi untuk waktu yang lama. Alea menggenggam erat surat pemberian Kenzo dan berjanji akan menyimpannya.
Kini Alea harus bisa berjalan tanpa Kenzo. Meskipun ada Evan dan Emily yang selalu ada untuknya, namun sosok Kenzo yang begitu hangat dan sangat berarti di hidupnya tak akan pernah dia lupakan. Seorang kakak yang selalu menjadi sinar fajar yang begitu hangat di kala dia terjebak dingin malam. Seorang kakak yang seperti sapu tangan, selalu menyeka keringatnya ketika lelah dan menghapus air matanya ketika sedih. Seorang kakak yang selalu dia rindukan, selalu dia nantikan kepulangannya, untuk dapat berkumpul lagi, menemaninya, menuntunnya, mengajarinya... apa arti hidup ini.


~ selesai ? ~

Selesaikah? Tapi kayaknya gak asik deh kalo perjuangannya Kenzo gak dicritain.. Tapi.. Pembacanya sendiri gimana nih.. Udah bosen belum yak?? Kasih komentarnya dong... ^^.
Share:

Cerita Tentang Kita | CHAPTER - 9, 'The Memory, The Path, The Truth..'

Title : Cerita Tentang Kita
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Life, Romantis, Family

Chapter sebelumnya, ada konflik antara Evan dan Rara tentang masa lalu Kenzo dan Rara. Lho.. Kenzo sama Rara? Tapi masa lalu yang mana? Pengen tahu? Cekibrott!! ^^.


CHAPTER - 9, 'The Truth'

**flashback**
Kenzo sedang sibuk membuat lukisan dari foto Rara yang dia pegang. Di sampingnya, ada Evan yang sabar menemani Kenzo menyelesaikan lukisannya.
“Sob. Loe yakin mau kasihin lukisan ini ke Rara?” tanya Evan ragu-ragu.
“Yakinlah sob. Soalnya cuma ini yang gue punya. Gue di sini kan hidup sendiri, duit dari ortu harus gue atur bener-bener buat kebutuhan gue. Dan gue yakin, Rara pasti suka sama lukisan ini.” Jawab Kenzo yang masih sibuk menggoreskan kuasnya ke kanvas. Evan hanya tersenyum melihat sahabat terbaiknya itu dengan tulus menyelesaikan lukisan itu. Namun Evan merasa kasihan karena Kenzo tampak begitu pucat karena telat makan.
“Kenzo, Evan. Berangkat jam berapa nih?” tanya Tara yang tiba-tiba nyelonong masuk.
“Elo Tar. Permisi dulu kenapa? Jangan asal nyelonong gitu.” Kata Evan memarahi Tara.
“Sori Van. Soalnya udah jam 7 nih. Kan pesta ulang tahunnya si Rara udah mulai.” Kata Tara menjelaskan.
“Yuk berangkat. Lukisannya udah selesai.” Kata Kenzo mantap. Dia sudah menenteng lukisan yang tertutup kain putih. Dengan mobil Tara, mereka bergegas meluncur ke tempat pesta Rara.
Sesampainya di sana, suasana tampak ramai. Begitu banyak teman Rara yang diundang. Dengan segera, Kenzo ditemani Evan dan Tara pun bergegas masuk. Dengan hati-hati, Kenzo membawa lukisannya. Dia menoleh ke sana ke mari mencari di mana Rara berada. Karena tak kunjung ketemu, Kenzo pun bertanya ke salah seorang tamu.
“Rara di mana ya?” tanya Kenzo ke salah seorang tamu.
“Oh, Rara kayaknya lagi di kolam renang belakang tadi.” Jawab Tamu itu. Kenzo pun bergegas mengajak Evan dan Tara ke sana.
“Evan, Tara. Yuk.” Ajak Kenzo bersemangat. Evan tampak kasihan melihat semangat yang dibalut tubuh lemah dan wajah pucat Kenzo. Mereka bertiga berjalan menuju ke kolam renang yang berada di halaman belakang rumah Rara. Tapi langkah kaki Kenzo mendadak terhenti, tubuhnya bergetar hebat. Evan dan Tara pun ikut menghentikan langkah mereka.
“Kok berhenti Zo?” tanya Tara ke Kenzo.
“Iya sob. Kok mendadak berhenti kenapa?” Evan juga bertanya ke arah Kenzo. Tapi Kenzo tidak menjawab.
Mulut Kenzo terkunci melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Tara dan Evan yang mengetahui hal itu pun ikut memandang ke arah pandangan Kenzo. Mereka pun juga terkejut. Tara ikut-ikut berdiri mematung. Mereka melihat Rara sedang berciuman dengan sangat mesra dengan seorang lelaki. Tak lama, Rara pun menyadari kehadiran Kenzo-Evan-Tara. Dia pun nampak gugup.
“Eh, Kenzo.” Kata Rara sambil merapikan rambut dan bajunya. Kenzo tersenyum kecut. Lukisan yang daritadi dia pegang dia letakkan begitu saja. Kemudian dengan langkah gontai, dia pergi meninggalkan tempat itu.
“Kenzo. Tunggu!” teriak Tara berlari mengikuti Kenzo.
“Keterlaluan loe Ra! Mainin perasaan tulus Kenzo! Dasar cewek murahan! Loe gak pantes nerima apapun dari Kenzo!” kata Evan penuh amarah. Evan kemudian berlari mengejar Kenzo dan Tara.
Rara kebingungan karena dia tertangkap basah oleh kedua mata Kenzo. Dilihatnya lukisan Kenzo yang tergeletak dan masih tertutup kain putih. Setelah disingkapkan, nampaklah lukisan wajahnya yang begitu cantik. Goresan kuas Kenzo yang begitu tulus, yang kini hanya tergeletak begitu saja. Tak lagi punya arti. Rara pun bergegas mengejar Kenzo.
Sesampainya di luar rumah Rara, Tara berhenti sejenak mengatur nafasnya. Tapi dilihatnya Kenzo yang nampak terus berjalan tanpa arah, melangkah menuju jalan raya yang ramai. Apalagi mendadak hujan turun dengan deras.
“Kenzo!!” teriak Tara melihat tubuh Kenzo terhempas setelah dihantam mobil yang melaju. Evan yang baru bisa menyusul Tara, kemudian berlari diikuti Tara ke tempat Kenzo terjatuh.
“Kenzo! Kenzoo!!!” teriak Evan kebingungan. Dari belakang, muncul Rara yang kemudian jatuh terduduk melihat kondisi Kenzo.
***
Kenzo duduk di beranda rumahnya sambil memegangi kuas lukis. Benda yang tak pernah lagi dia gunakan semenjak dia memutuskan untuk konsentrasi ke kuliahnya, dan fokus ke cita-citanya mengikuti jejak Papa sebagai seorang System Analyst. Tiba-tiba pikirannya kembali melayang memikirkan Rara yang dulu dia kagumi. Seseorang yang dulu membuatnya kehilangan semua logika dan meruntuhkan rasionalitasnya. Kemudian bayangan Rara itu tiba-tiba kabur dan mendadak berubah menjadi bayangan sosok Emily yang sederhana dan begitu bertolak belakang dengan Rara.
“Emily. Anaknya lucu, baik, sederhana. Tapi cantik, senyumnya juga manis.” Kata Kenzo.
“Hayo. Emily siapa?” tanya Mama yang tiba-tiba muncul kemudian duduk di samping Kenzo.
“Eh, Mama. Apaan sih.” Kata Kenzo gelagapan berusaha menyembunyikan rasa malunya. Mama hanya tersenyum.
“Kenzo, yang tadi kamu suruh nganterin Alea itu siapa? Pacarnya Alea?” tanya Mama.
“Bukan. Namanya Evan Ma, temen Kenzo di kampus Ma. Orangnya baik dan Kenzo percaya dia bisa ngejagain Alea.” Jawab Kenzo.
“Tapi kayaknya cocok deh sama Alea.” Kata Mama. Kenzo mengangguk tanda setuju.
“Haha. Mama bisa aja deh.” Kata Kenzo.
“Malam ini, malam terakhir makrab. Berarti besok pagi Alea udah pulang ya?” Tanya Mama ke Kenzo.
“Iya Ma. Mama sih, gak jadi dateng ke tempat makrab buat kasih kejutan buat Alea.” Kata Kenzo.
“Kenzo, bisa baikan lagi sama Alea waktu itu udah cukup. Mama udah seneng.” Kata Mama sambil tersenyum. Kenzo memandang senyum Mamanya yang menggambarkan kebahagiaan.
“Iya Ma. Kenzo juga seneng, karena Alea bisa berangkat dengan perasaan bahagia setelah dapet hadiah terindah, yaitu Mama pulang.” Kata Kenzo sambil tersenyum.
“Kenzo, ada yang mau Mama omongin sama kamu.” Kata Mama dengan nada serius.
“Ada apa Ma?” tanya Kenzo penasaran.
“Gini, ini tentang Papa. Alasan kenapa Papa gak ikut pulang. Dan alasan sebenarnya kenapa Mama pulang ke sini.” Jawab Mama.
***
Apel sore baru saja selesai dilaksanakan. Malam harinya, karena merupakan malam makrab terakhir, akan diadakan acara pensi sebagai acara penutup dan masing-masing kelompok diharuskan menampilkan satu atraksi hiburan. Kelompok Alea masih kebingungan menentukan hiburan apa yang akan mereka tampilkan.
“Eng, temen-temen. Ada yang punya usul gak mau nampilin apa?” tanya Tika di rapat kelompok.
“Aduh, gue gak tau deh. Kalo soal gituan gue nyerah.” Jawab Wisnu. Gian, Mars, serta Venus juga buntu dan tak memiliki ide.
“Kalo nyanyi aja gimana?” Nissa pun memberikan usul.
“Terus, yang nyanyi siapa?” tanya Emily. Nissa hanya nyengir karena dia juga bingung harus menentukan siapa yang akan tampil.
“Gue aja deh.” Celetuk Liana tiba-tiba. Semuanya pun kaget.
“Beneran Li?” tanya Alea. Dengan mantap, Liana pun mengangguk. Tak berapa lama, Gea datang dengan membawakan sebuah gitar.
“Itu, gitar siapa?” tanya Mars.
“Gitar gue lah. Emang punya siapa.” Jawab Liana cuek. Liana pun kemudian duduk dan mulai memainkan gitarnya. Disusul dengan bait demi bait lirik lagu dia nyanyikan hingga selesai. Semua yang daritadi mendengarkan Liana menyanyi pun hanya bisa melongo karena dibuat kagum oleh permainan dari Liana.
“Keren.” Kata Emily. Liana pun hanya tersenyum malu. Gea, diikuti Alea dan yang lainnya pun bertepuk tangan untuk Liana.
***
Acara pensi dimulai. Dimulai dengan penampilan Wayan yang mengundang decak kagum, disusul dengan satu persatu penampilan dari masing-masing kelompok mahasiswa baru. Dan akhirnya tiba giliran kelompok Alea. Dengan perlahan, Liana maju ke atas panggung dengan menenteng gitarnya.
“Eh Tar. Bukannya itu temennya Alea yang galak itu kan?” tanya Wayan kepada Tara.
“Iya. Liana namanya.” Jawab Tara.
“Oh. Liana.” Kata Wayan.
“Evan di mana sih Yan?” tanya Tara.
“Gak tau gue. Di depan kali lagi cari angin.” Jawab Wayan sekenanya. Tara pun pergi keluar mencari Evan. Sedangkan Wayan tetap duduk di tempatnya dan melanjutkan acara pensi.
“Kenalin, nama gue Merliana Melodi, biasa dipanggil Liana. Gue mahasiswa sastra dan di sini gue mau nyanyiin sebuah lagu dari Peterpan, Semua Tentang Kita.” Kata Liana memperkenalkan diri. Kemudian jemari Liana mulai memainkan senar gitar dengan terampil. Menciptakan alunan melodi yang begitu indah.
Liana pun mulai bernyanyi. Denting dawai gitarnya yang mengalun bersahut-sahutan mengiringi suara Liana yang begitu merdu. Seluruh ruangan pun dibuat takjub. Tiba-tiba ada suara gitar lain yang ikut terdengar. Permainan yang berbeda, namun alunan nadanya begitu padu dengan permainan Liana. Permainan gitar dari… Wayan dan dia pun ikut bernyanyi di samping Liana. Seluruh penonton pun bersorak. Liana tersenyum kepada Wayan, begitu pula sebaliknya. Mereka berduet dan berhasil menghipnotis penonton untuk ikut bernyanyi.
***
Tara masih sibuk mencari Evan. Di tengah jalan, dia bertemu Rara dan mereka berdua pun berjalan bersama mencari Evan.
“Tar. Itu Kenzo kan?” tanya Rara ke Tara sambil menunjuk. Tara pun melihat ke arah yang ditunjuk Rara.
“Iya bener. Ada Evan juga. Eh, itu sama siapa?” kata Tara.Tara diikuti Rara pun mendekat ke tempat Evan yang sedang berbincang dengan Kenzo dan Mamanya.
“Jadi gitu Van. Gue pengen loe mau ngejagain Alea buat gue.” Kata Kenzo.
“Iya nak Evan. Tante percaya, kamu bisa ngejagain Alea selama Kenzo pergi.” Kata Mama Kenzo. Evan pun mengangguk tanda setuju.
“Terus, Kenzo mau pergi berapa lama tante?” tanya Evan.
“Mungkin setengah tahun.” Jawab Mama Kenzo.
“Berarti loe gak bisa lulus tahun depan dong Zo?” tanya Evan.
“Ya, mau gimana lagi Van. Gue harus ambil cuti kuliah. Kasian Papa gue.” Jawab Kenzo.
“Yaudah. Mama ke mobil dulu ya. Kamu terusin dulu ngobrolnya.” Kata Mama Kenzo kemudian meninggalkan Kenzo dan Evan.
“Evan, Kenzo.” Panggil Tara dengan nafas ngos-ngosan karena berlari. Di belakang Tara, ada Rara yang tak berani menyapa Kenzo karena mendapat tatapan tajam dari Evan.
“Loe Tar. Alea di mana?” tanya Kenzo.
“Masih di dalem, ikut acara pensi.” Jawab Tara. Kenzo melempar senyum ke arah Rara.
“Hai Ra.” Sapa Kenzo.
“H..hai.. Kenzo.” Jawab Rara terbata-bata.
“Guys, ke tempat pensi yuk.” Ajak Kenzo. Mereka pun ke gedung hall untuk menonton acara pensi.
Sesampainya di sana, Liana dan Wayan baru saja selesai menyanyikan lagu kedua. Diikuti sorak dan tepuk tangan mahasiswa baru peserta makrab yang lain. Di antara para peserta makrab itu, pandangan Kenzo langsung tertuju ke arah Alea dan Emily yang tampak begitu senang.
“Suara loe keren. Permainan gitar loe juga bagus.” Puji Wayan ke Liana.
“Biasa aja kali kak. Kak Wayan lebih jago deh kayaknya.” Kata Liana membalas pujian Wayan.
“Eitss.. Ada yang abis duet nih.” Kata Tara tiba-tiba yang membuat Wayan dan Liana salah tingkah. Satu jitakan dari Liana pun melayang ke kepala Tara.
Kenzo, Evan, Wayan, Liana, dan Rara pun tertawa melihat Tara memegangi kepalanya yang kesakitan. Kenzo pun menyingkir dari situ dan berjalan ke arah Alea. Mengajak Alea keluar.
“Emily, pinjem Aleanya bentar ya.” Kata Kenzo ke Emily sambil tersenyum. Emily yang gugup tak mampu berkata apa-apa dan hanya mengangguk pelan. Kenzo pun mengajak Alea keluar dan kemudian mereka berdua ngobrol.
“Kakak.” Panggil Alea.
“Iya Al. ada apa?” tanya Kenzo.
“Kok kakak ke sini? Kan harusnya istirahat. Malem-malem naik motor.” Kata Alea sambil manyun.
“Alea. Kakak ke sini pake mobil, bareng Mama.” Kata Kenzo menjelaskan.
“Terus, Mama?” tanya Alea.
“Mama di mobil.” Kata Kenzo. Kenzo kemudian menyodorkan sebuah kotak hadiah ke Alea.
“Dari papa.” Kata Kenzo pelan.

to be Continue... 

Bentar lagi bakal selesai nih.. Kayaknya.
Share:

Cerita Tentang Kita | CHAPTER - 8, 'A Gift, A Sorry'


Title : Cerita Tentang Kita
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Life, Romantis, Family

Oi! Oi! Oi! Chapter 8 nih.. Yuk mari dibacaa..... ^^.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwxmGUo-aEuQkTHUhrM0JjqL42dzzN3JqO8QvEIXilazoUuctAZLkNVla_1LFFCWlXztT6m086M65VKYKnsVof4pVbp2kGPfas9-8UnXHmud4qhFUCnfqLILDJwi0HsGYjq3ut8IqMnGB8/s1600/ebay_free20gifts_hadiah20percuma_014.jpg
CHAPTER - 8

Hari Jum’at tanggal 27 September. Hari seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Hari yang seharusnya penuh dengan keceriaan dan senyuman. Tapi pagi ini rumah itu nampak suram. Mama, Kenzo, dan Alea duduk untuk menyantap sarapan yang ada. Suasana begitu sunyi. Wajah murung Alea, raut penyesalan di wajah Mama, dan rona kesedihan yang tergambar di wajah Kenzo. Tak ada satu pun kata yang meluncur dari mulut mereka. Sesekali Kenzo mencoba bercanda, tapi tetap saja bercandaan Kenzo dilahap oleh kesunyian.
“Al, berangkat jam berapa?” tanya Kenzo ke Alea sekedar basa-basi. Alea tampak enggan untuk menjawabnya.
“Alea berangkat dulu.” Kata Alea kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mama dan Kenzo. Air mata Mama pun tak terbendung. Kenzo yang tak tahan melihat Mamanya menangis pun segera berlari mengejar Alea. Untung saja Alea belum begitu jauh dari gerbang rumah.
“Al!! Alea!! Berhenti!!” teriak Kenzo sambil berlari. Alea yang mengetahuinya pun segera menghentikan langkahnya.
“Kamu kenapa sih Al?” tanya Kenzo sambil berusaha mengatur nafasnya. Alea menundukkan kepalanya. Begitu lama.
“Alea.” Panggil Kenzo sambil memegang kedua pundak Alea. Perlahan, Alea mengangkat kepalanya. Ternyata dia sedang menangis. Tanpa berkata apa-apa, Alea langsung memeluk Kenzo. Sebenarnya, Kenzo mengetahui semuanya tentang pertengkaran antara Alea dan Mama. Tapi dia berusaha menutupinya dengan pura-pura tidak tahu. Yang kini bisa dia lakukan adalah menenangkan Alea yang masih terus menangis.
“Alea nyesel kak.” Kata Alea sesenggukan.
“Ada apa sayang? Nyesel kenapa?” tanya Kenzo lembut kemudian melepaskan pelukan Alea.
“Se..semalam, Alea udah ngomong sesuatu yang bikin Mama marah.” Kata Alea lirih.
“Jadi Alea udah nyesel?” tanya Kenzo.
“I..iya kak. Tapi Alea takut kalo Mama masih marah.” Kata Alea dengan masih menangis. Mendengarnya, Kenzo pun lega karena sebenarnya tak ada yang memendam amarah.
“Alea. Mama tadi nangis lho. Kalo Alea nyesel, seharusnya minta maaf ke Mama.” Kata Kenzo menasehati Alea.
“Tapi Alea takut kak.” Kata Alea. Kenzo pun tersenyum.
“Gakpapa Alea. Percaya deh sama kakak. Yuk?” Ajak Kenzo.
“Ta..tapi kak…” kata-kata Alea langsung dipotong oleh Kenzo.
“Gakpapa Al. Mama pasti maafin kok. Yuk.” Ajak Kenzo. Akhirnya Alea menurutinya kemudian kembali masuk ke rumah.
***
Mama masih menangis di dalam kamar. Hatinya pedih seperti diiris sembilu. Ada rasa penyesalan yang begitu dalam karena telah begitu saja menampar putri yang paling beliau sayangi. Di samping Mama, ada sebuah kotak kecil berwarna merah muda dengan pita warna putih. Kotak yang sedianya akan diberikan kepada Alea sebagai kejutan. Tapi apa yang telah terjadi seolah membuat kotak itu tak berarti lagi. Mama pun keluar, berjalan perlahan ke ruang keluarga. Di sana beliau menatap foto keluarga yang terpajang. Foto yang diambil ketika Kenzo dan Alea masih duduk di bangku SMP, ketika Mama dan Papa belum pindah ke Jepang.
“Maafin Mama sayang.” Kata Mama lirih sambil menatap lekat-lekat ke wajah kecil Alea di foto itu. Tiba-tiba dari belakang ada yang memeluk Mama.
“Maafin Alea Ma.” Kata Alea pelan. Mama tak menjawab, kemudian melepas pelukan Alea.
“Sayang.” Kata Mama sambil membelai rambut Alea. Alea menunduk. Dia tak berani menatap Mamanya. Dengan perlahan, Mama memeluk erat Alea. Dengan penuh kasih sayang, beliau berbisik di telinga Alea, “Selamat ulang tahun sayang.”
Alea tak kuasa menahan perasaannya. Dia pun kemudian memeluk erat tubuh Mamanya kemudian menangis dengan keras. Tangis yang dulu sering didengar oleh Mama ketika Alea masih sangat kecil, kini tangis Alea kecil itu kembali terdengar. Sebuah nostalgia masa lalu yang begitu indah. Melihatnya, Kenzo pun tersenyum sambil menahan bulir air matanya terjatuh.
***
“Mily, Alea mana?” tanya Liana.
“Masih di jalan kali. Gue sms gak dibales.” Jawab Mily sambil mengecek hpnya.
“Yaudah kita kumpul ke kelompok dulu aja yuk.” Ajak Gea. Liana dan Emily pun setuju. Mereka bergegas berjalan ke arah teman-teman kelompok mereka yang sudah berkumpul.
“Eh, si Alea di mana? Kok gak ada?” tanya Wisnu menyambut kedatangan Emily, Gea, dan Liana.
“Dasar kepo loe.” Jawab Liana ketus.
“Ya ampun. Galak banget sih loe.” Kata Wisnu.
“Udah udah. Sekarang kita cek dulu perlengkapan kita.” Kata Gian menyudahi pertengkaran Wisnu dan Liana. Gian dibantu Tika pun segera melakukan cek ke perlengkapan kelompok.
Setelah semua perlengkapan dicek dan fix, mereka pun duduk sambil ngobrol-ngobrol ringan seputar kesan-kesan mereka di sini. Ada beberapa candaan yang sering keluar dari mulut Mars yang selalu bisa membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
“Eh Mars. Loe kayaknya cocok deh jadi pelawak.” Kata Nissa mengomentari lawakan Mars.
“Biasa aja kali Sa. Gue kan sekedar ngomong doang.” Kata Mars merendah.
“Eh, itu Alea bukan?” tanya Wisnu tiba-tiba. Emily, Liana, dan Gea menengok ke arah yang ditunjuk Wisnu. Mereka pun melongo.
“Itu kan Alea sama kak Evan.” Kata Gea.
“Iya. Eh, emang mereka udah jadian ya Mily?” tanya Liana ke Emily.
“Gue juga gak tahu Li. Ntar aja kita tanya.” Jawab Emily.
“Maaf temen-temen aku telat.” Kata Alea menghampiri kelompoknya.
“Gakpapa, berangkatnya kan juga masih lama.” Kata Tika sambil tersenyum.
“Al, loe tadi kok bareng sama kak Evan?” tanya Liana ke Alea.
“Tadi kak Kenzo telpon kak Evan, minta jemput aku. Kak Kenzo kan gak ikut.” Jawab Alea sambil tersenyum.
“Kak Kenzo gak ikut beneran?” tanya Emily dengan nada lesu.
“Ciee… Yang galau gara-gara kak Kenzo gak ikut.” Goda Liana.
“Apaan sih loe Li.” Kata Emily menyembunyikan perasaannya. Alea dan Gea hanya tertawa melihat Liana sukses mengerjai Emily.
“Eh, Al. itu tadi pacar loe ya?” tanya Wisnu tiba-tiba dari belakang Alea.
“Apaan sih loe kepo. Mau tau aja.” Kata Liana tiba-tiba ke Wisnu.
“Udah-udah Li. Dia tadi, kak Evan, bukan pacarku kok.” Jawab Alea ramah.
“Bukannya ‘bukan’, tapi ‘belum’. Iya kan.” Celetuk Emily tiba-tiba. Alea tak menjawab, pipinya bersemu merah. Liana dan Gea tertawa. Wisnu pun hanya kebingungan melihat 4 sekawan itu begitu akrab satu sama lain.
***
Evan agak tergesa-gesa menuju ruang BEM untuk mengikuti briefing sebelum berangkat. Ada sebentuk senyuman di wajahnya, senyum yang bukan saja karena dia semakin dekat dengan Alea. Tapi Kenzo yang telah mempercayainya untuk menjaga Alea.
Sesampainya di ruangan BEM, para panitia tampak sudah berkumpul untuk mulai briefing. Evan pun segera duduk di depan dan memulai briefing selaku wakil ketua. Karena Kenzo, ketua panitia tidak bisa hadir. Dengan lancar, semua hal yang perlu dibahas di dalam rapat telah diselesaikan dengan baik. Panitia yang bertugas menjadi koordinator masing-masing kelompok pun segera keluar untuk memberikan instruksi lebih lanjut ke kelompok mahasiswa baru. Yang ada di dalam ruang BEM tinggal Evan, Tara, dan Rara.
“Lho. Ve mana nih? Dia kan sekretaris, kok gak ada?” tanya Evan.
“Loe belum denger kabar soal Ve  ya Van?” tanya balik Tara.
“Kabar soal Ve? Apaan sih?” tanya Evan yang makin kebingungan.
“Dia pindah kampus Van. Pas gue tanya alasannya kenapa, dia gak mau bilang. Dia cuma bilang, titip maaf buat Kenzo. Pas bilang gitu, raut wajahnya aneh banget. Kayak nyimpen sesuatu gitu.” Jawab Rara panjang lebar.
“Ve pindah? Maaf buat Kenzo? Maksudnya apaan Tar?” Evan pun tambah tidak mengerti.
“Gue juga gak tau sob maksudnya apaan. Nih si Rara yang gantiin posisinya Ve jadi sekretaris sekarang.” Kata Tara sambil menunjuk ke arah Rara. Rara tersenyum. Evan hanya menanggapinya dengan dingin.
“Eh Van. Kenzo mana? Kok gak ada?” tanya Rara tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Rara tentang Kenzo, mendadak raut muka Evan berubah.
“Peduli apa loe sama Kenzo pake nanya-nanya segala.” Jawab Evan ketus. Tara hanya mendengus pelan mendengar apa yang dikatakan Evan.
“Maksud gue kan baik.” Kata Rara.
“Terserah loe deh Ra! Gue tau, loe mau jadi sekretaris cuma pengen deketin Kenzo aja. Emang sih, Kenzo udah maafin loe atas apa yang pernah loe lakuin ke dia. Tapi gue gak bisa Ra. Sikap loe ke Kenzo udah keterlaluan! Dia hampir kehilangan nyawanya gara-gara waktu itu! Loe…” Kalimat Evan kemudian dipotong oleh Tara.
“Udah lah sob. Yang dulu-dulu jangan dibahas.” Kata Tara mencoba menenangkan Evan yang masih menatap tajam Rara.
“Tapi Tar..” kata Evan.
“Udah deh, kita harus bersyukur karena Kenzo gak bisa inget kejadian itu gara-gara shock yang akhirnya bikin dia kehilangan memori itu.” Kata Tara menasehati Evan.
“Iya bener kata loe Tar.” Kata Evan dengan berat.
“Cabut yuk.” Kata Tara sambil menarik tangan Evan. Evan pun menurut dan mengikuti Tara meninggalkan ruangan. Tinggal Rara yang masih duduk sendirian di ruangan BEM termenung mendengar semua kata-kata tajam Evan.
“Apa gue udah begitu jahat sama Kenzo. Sampe sahabat-sahabatnya Kenzo bersikap gitu ke gue.” Kata Rara lirih. Kata-kata Evan benar-benar jitu menusuk hati Rara.

Ber..sam..bung..... :p

Komen di kotak komentar yaaa... b(^.^)d
Share: