Cerita Tentang Kita | CHAPTER - 7, 'Surprise!'

Title : Cerita Tentang Kita
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Life, Romantis, Family


Ini dia yang baru. Maap rada panjang, terus belepotan banget, terus ceritanya kurang asyik, terus endingnya gantung... Terus langsung dibaca aja deh yukk... ^^.


CHAPTER - 4, 'Surprise!'

Emily, Liana, dan Gea sedang berjalan menuju kantin kampus. Mereka masih membahas masalah tugas Liana yang tinggal sedikit lagi selesai. Sesekali mereka membicarakan hubungan Evan-Alea dan Kenzo-Emily.
“Eh, kak Evan sama Alea udah jadian belom sih? Kok kayaknya mereka sekarang sering ketemu gitu?” tanya Liana ke teman-temannya.
“Kayaknya belum deh Li. Kalopun udah pasti dia bakal cerita ke kita dong.” Kata Emily.
“Iya juga ya. Eh, terus loe sama kak Kenzo gimana Mily?” tanya Liana ke Emily.
“Apaan sih Li. Kan belum tentu juga kak Kenzo suka sama gue.” Jawab Emily berusaha mengelak.
“Nah, berarti loe emang suka sama kak Kenzo kan?” tanya Liana dengan nada menggoda.
“Dasar kepo loe.” Jawab Emily sewot. Liana dan Gea pun tertawa.
Saat sedang asyik ngobrol dan bercanda, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Liana dari belakang. Liana dan orang itu pun terjatuh. Emily dan Gea pun segera membantu Liana yang kesakitan. Setelah kembali berdiri, Liana langsung mendatangi orang sudah menabraknya yang sedang sibuk merapikan bajunya.
“Eh, kalo jalan pake mata dong!” Teriak Liana galak. Setelah orang itu menoleh, ternyata Wayan yang sudah menabraknya.
“Eh, singa. Biasa aja dong jangan teriak-teriak gitu. Gue juga jatuh nih.” Kata Wayan membela dirinya. Dia sama sekali tak menatap Liana karena masih sibuk membersihkan baju dan celananya yang kotor karena terjatuh.
“Biasa gimana? Loe tu yang seenaknya lari-larian gak liat depan.” Kata Liana menyerang Wayan.
“Wow wow. Kenapa nih kok seru banget? Ada apaan ni?” tanya Tara yang tiba-tiba datang dari arah belakang Wayan.
“Nih, cewek singa. Gue kan gak sengaja nabrak karena gak bisa ngerem.” Kata Wayan menunjuk Liana.
“Singa? Maksud loe apaan kak?” tanya Liana galak.
“Tuh, liat galaknya kayak singa kan.” Kata Wayan.
“Udah udah. Tadi yang nabrak siapa?” tanya Tara.
“Gue.” Jawab Wayan singkat.
“Yaudah. Sekarang loe minta maaf ke Liana deh Yan. Kan loe yang nabrak, berarti loe yang salah. Buruan.” Kata Tara ke Wayan.
“Enak aja. Gue kan gak sengaja. Lagian dia juga ngomong kayak gitu. Galaknya gak kira-kira. Ogah gue.” Kata Wayan.
“Dasar loe kayak anak kecil Yan. Liana, maafin Wayan ya. Tadi dia emang larinya gak kira-kira jadi nabrak loe. Maafin dia ya.” Kata Tara ke Liana. Tampak wajah Liana masih diselimuti kemarahan.
“Udah yuk Li. Kita ke kantin aja.” Ajak Gea. Emily pun merespon dengan menarik Liana pergi. Tampak tatapan tajam Liana dan Wayan yang saling beradu, menyebabkan aliran elektron yang berputar-putar membentuk angin puting beliung. Tara pun bergegas mengajak Wayan pergi.
“Siapa sih tu cewek?” tanya Wayan ke Tara.
“Liana, temennya Alea adik Kenzo.” Jawab Tara.
“Gila ya. Si Alea punya temen galak kayak singa.” Kata Wayan.
“Haha. Biasa aja kali Yan. Loe tadi juga gak kalah galak.” Kata Tara bercanda.
***
Kenzo baru saja sampai rumah setelah melakukan kontrol ke dokter. Dia merebahkan dirinya di sofa sambil mendengarkan musik dari iPod kesayangannya. Karena merasa haus, dia beranjak ke dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Gurat wajahnya begitu lesu tak bersemangat. Setelah itu, dia kembali ke sofa untuk istirahat. Saat akan tertidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Sekali dua kali, Kenzo tak menghiraukannya. Tapi akhirnya dia merasa terganggu karena berkali-kali ketukan pintu.
“Aduh, siapa sih ni.” Gerutu Kenzo. Dia pun bergegas membukakan pintu.
“Siapa ni? Ada keperluan apa?” tanya Kenzo sambil mengucek kedua matanya. Sehingga dia tidak memperhatikan siapa yang berada di depannya. Orang yang ada di depan Kenzo itupun hanya tersenyum. Tiba-tiba mengulurkan tangan kemudian mengacak-acak rambut Kenzo. Mendapat perlakuan seperti itu, Kenzo pun kaget. Dia pun menatap orang itu.
“Mama!!” teriak Kenzo kemudian memeluk orang yang ternyata Mamanya. Beliaupun menyambut pelukan Kenzo dengan hangat.
“Mama kapan dateng? Kok gak ngasih kabar dulu? Papa mana?” tanya Kenzo.
“Mama sengaja mau kasih kejutan sayang. Papa gak ikut, lagi ngerjain proyek di sana.” Jawab Mama Kenzo lembut.
“Yaudah, masuk yuk Ma. Kenzo mau telpon Alea dulu. Mau ngasih kabar kalo Mama pulang.” Kata Kenzo. Mereka berdua pun masuk. Saat Kenzo akan menelpon Alea, tiba-tiba Mama mencegahnya.
“Lho. Kenapa Ma?” tanya Kenzo.
“Jangan. Eh, Kenzo, kamu inget kan besok tanggal berapa?” tanya Mama.
“27 September?” jawab Kenzo.
“Terus, kalo 27 September?” tanya Mama lagi. Kenzo pun mengernyitkan dahinya berusaha mengingat sesuatu. Kemudian dia teringat sesuatu.
“Ulang taunnya Alea!!” teriak Kenzo. Mama Kenzo pun tersenyum.
“Nah, Mama sengaja pulang buat ngasih kejutan buat dia. Tapi sayangnya, Papa malah gak bisa dateng.” Kata Mama Kenzo.
“Tapi Ma. Hari Jumat, Alea ada acara makrab jadi gak di rumah.” Kata Kenzo menjelaskan ke Mamanya.
“Yah. Terus gimana dong sayang?” tanya Mama agak kecewa.
“Emm. Gampang deh, nanti Kenzo yang atur. Pokoknya Mama siapin aja kejutannya. Besok malem, kita kasih ke Alea.” Jawab Kenzo dengan wajah yakin. Melihat raut wajah Kenzo, Mama pun tersenyum. Dalam hati, beliau percaya dengan apa yang direncanakan Kenzo.
“Oiya. Kamu udah makan belum?” tanya Mama.
“Hehe. Belum Ma. Males masak.” Jawab Kenzo sambil nyengir.
“Idih. Anak Mama yang satu ini kok malesnya gak ilang-ilang sih. Yaudah, Mama masakin dulu.” Kata Mama sambil mengacak-acak rambut Kenzo. Kemudian melangkah ke dapur.
***
“Temen-temen, aku duluan ya.” Kata Alea pamit ke teman-temannya.
“Ok Al. Ati-ati ya.” Kata Emily. Gea dan Liana melambaikan tangannya. Alea pun tersenyum. Hari ini Alea ingin pulang lebih cepat untuk bertemu kakaknya. Dia tidak ikut ke rumah Emily untuk menyelesaikan tugas Liana. Saat akan keluar pintu gerbang, ada seseorang yang menghampirinya dengan motor.
“Bareng yuk Al.” kata orang itu yang ternyata Wisnu. Alea kaget.
“Eh, Wisnu. Gak ah kan rumah kita beda arah.” Kata Alea mencoba menolak.
“Udah gakpapa. Yuk.” Ajak Wisnu lagi. Tapi Alea berkeras menolak.
“Yaudah kalo gitu. Gue duluan ya.” Kata Wisnu dengan nada kecewa. Kemudian memacu motornya. Alea pun kembali berjalan. Hari ini Kenzo tidak masuk sehingga Alea harus pulang sendiri. Dan sudah menjadi kebiasaannya di Jepang, berjalan kaki pulang daripada naik angkutan umum semacam bus.
“Al.” ada yang memanggil Alea dari arah belakang. Alea pun menoleh.
“Kak Evan, dari mana?” tanya Alea.
“Dari swalayan, belanja. Oiya, kamu kok jalan kaki?” tanya Evan.
“Kan kak Kenzo gak masuk kak. Yaudah, aku pulang sendiri.” Jawab Alea enteng.
“Bareng yuk.” Ajak Evan. Alea hampir melompat mendapat ajakan dari Evan. Alea pun tak menjawab.
“Kamu tunggu sini bentar, aku ambil motor dulu.” Kata Evan. Tak berapa lama, Evan sudah kembali dengan motornya.
“Yuk.” Ajak Evan. Dengan malu-malu, Alea naik membonceng Evan. Sepanjang jalan, Evan mengajak Alea ngobrol dan bercanda. Mereka berdua pun sesekali cekikikan.
Tak berapa lama, mereka sampai di rumah Alea.
“Makasih ya kak, udah dianterin. Yuk masuk dulu.” Ajak Alea.
“Sama-sama Al. gak ah, ni belanjaannya udah ditungguin bundaku.” Kata Evan.
“Yaudah kalo gitu. Ati-ati ya kak.” Kata Alea. Evan pun segera pergi. Alea masuk ke rumah, kemudian duduk di samping Kenzo yang sedang menonton TV.
“Al, tadi bareng sama siapa?” tanya Kenzo.
“Kak Evan, kak.” Jawab Alea malu-malu.
“Ciee. Asik-asik.” Kata Kenzo menggoda Alea.
“Aduh, apaan siih Al.” kata Kenzo memegangi hidungnya yang dicubit Alea.
“Kakak sih, makanya jangan ngegodain Alea terus. Daripada ngegodain Alea, mending si Mily aja yang digodain.” Kata Alea kemudian tertawa.
“Kamu ya.” Kenzo kemudian mengacak-acak rambut Alea. Mereka berdua tampak sangat akur. Dari dalam kamar tepat di belakang Kenzo dan Alea, Mama melihat kedua buah hatinya yang telah beranjak dewasa itu dengan senyum bahagia. Beliau sengaja bersembunyi karena ingin memberikan kejutan tepat saat hari ulang tahun Alea.
“Andai aja Papa mau ikut Mama pulang.” Kata Mama lirih.
“Udah ah, aku mau ambil minum dulu.” Kata Alea kemudian berjalan ke dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat meja makan yang berisi makanan. Alea pun memanggil kakaknya.
“Kakaaak!! Kak Kenzooo!!” teriak Alea. Kenzo pun berlari menghampiri Alea.
“Heh, dasar. Ngapain teriak-teriak?” tanya Kenzo sambil menjitak kepala Alea.
“Aduh. Ni, kok ada makanan banyak?” tanya Alea sambil menunjuk ke arah meja makan. Kenzo agak gugup, kemudian berusaha tetap santai menjawabnya.
“Ini tadi kakak beli kok. Ya, itung-itung nyiapin sebelum kamu berangkat makrab gitu biar bisa makan enak.” Kata Kenzo sambil nyengir.
“Kalo gitu, makan ah.” Kata Alea kemudian duduk dan makan makanan itu. Kenzo ikut duduk kemudian memperhatikan Alea yang makan dengan lahap.
“Kak.” Kata Alea.
“Iya Al, kenapa?” tanya Kenzo.
“Gakpapa. Gak jadi.” Kata Alea kemudian melanjutkan makannya.
“Yaudah. Kakak tidur duluan ya, udah ngantuk.” Kata Kenzo.
“Iya kak.” Jawab Alea. Kenzo pun meninggalkan Alea sendiri di meja makan.
Selesai makan, Alea mencuci piring kemudian kembali ke ruang keluarga untuk menonton TV. Saat berjalan menuju ruang keluarga, Alea masih memikirkan soal makanan yang ada di meja makan tadi. Dia tidak percaya kalo Kenzo membelinya karena rasa makanan itu begitu familiar untuknya.
“Rasanya familiar banget. Kayak masakan Mama. Tapi Mama kan di Jepang? Ah udah lah.” batin Alea. Karena sudah mengantuk, dia pun bergegas ke kamar untuk tidur.
Jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tidur Alea terusik dengan bunyi di dapur. Karena penasaran, Alea pun turun untuk memeriksa. Dengan berjingkat, Alea menuju ke dapur. Di sana, dia kaget melihat siapa yang sedang mencuci piring dan gelas kotor. Mamanya! Dengan perlahan, Alea mendekat kemudian memeluk Mamanya dari belakang. Mama kaget, tapi kemudian sadar siapa yang sedang memeluknya.
“Alea kebangun ya.” Kata Mama lembut.
“Kok Mama gak bilang-bilang kalo mau pulang?” tanya Alea. Mama pun melepas pelukan Alea kemudian berbalik.
“Sayang, Mama pengen kasih kejutan ke kamu. Eh, malah ketahuan duluan.” Jawab Mama sambil tersenyum.
“Mama pulang sendirian?” tanya Alea lagi. Nampak ada raut wajah menyesal di wajah Mama ketika mendengar pertanyaan Alea itu.
“Iya sayang. Maafin Papa, dia masih ada proyek di sana. Jadi gak bisa ikut.” Jawab Mama dengan nada berat.
“Selalu aja gitu. Selalu sibuk sama kerjaan. Gak pernah ada waktu buat anaknya.” Kata Alea.
“Alea! Kenapa kamu ngomong gitu!” kata Mama dengan nada agak tinggi.
“Itu kenyataan Ma! Papa terlalu sibuk sama kerjaannya! Itu sebenernya alasan Alea pulang ke Indonesia trus tinggal sama kak Kenzo. Karena di sana Papa gak pernah punya waktu buat Alea, buat kita. Selama Alea di sini pun, cuma Mama yang sering telpon Alea sama kak Kenzo. Papa sama sekali gak nanyain kabar Alea sama kakak. Papa udah lupa sama…” Kata-kata Alea terputus oleh tamparan dari Mama. Alea tersentak kaget. Dengan memegangi pipinya, Alea berlari ke kamarnya sambil menangis.
Mama tampak menyesal telah menampar putri kesayangannya. Beliau tak tahan mendengar semua kata-kata dari Alea tadi. Semua rencana yang sudah disusun untuk memberi kejutan ke Alea telah hancur berantakan..

bersambung lagiii..... 

Gimana gimana?? Minta komentarnya yaa... ^^.
Share:

CERPEN | Hujan Sore Itu


Title : Hujan Sore Itu
Author : Nur Rochman | @NVRstepback
Genre : Romantis, Life

Pada posting kali ini, ane mo share cerita bikinan ane sendiri. Sebelumnya maaf kalo bahasa di cerita ini rada semrawut. Maklum, bukan penulis profesional. he he. Oke, daripada basa - basi GeJe kelamaan, mending langsung aja deh Gan. Cekibrot !!! :D



HUJAN SORE ITU

Siang ini hujan turun cukup deras. Aku dan Alya, kekasihku terperangkap di kampus bersama beberapa mahasiswa yang lain. Alya duduk di sampingku. Sudah beberapa hari ini kami tidak saling bicara. Memang kami sedang ada masalah. Alya beberapa kali marah padaku karena aku sibuk dengan tugas – tugasku yang memang menumpuk. Sebenarnya aku sudah berusaha minta maaf. Tapi, Alya masih saja marah. Karena bosan, akhirnya aku biarkan dia mendiamkanku.
Hujan perlahan mulai mereda. Aku mengajak Alya pulang. Dengan tetap membisu, dia menurutiku. Ku antar dia sampai di rumahnya. Karena hanya didiamkan, aku langsung pergi meninggalkan rumah Alya. Sesampainya di rumah, dikejutkan oleh keberadaan seorang perempuan yang sangat kami kenal. Wina.
“Wina ?” aku masih belum percaya kalau yang aku lihat di depan mataku adalah Wina.
“Iya, Vin. Ini aku, Wina. Masa kamu udah lupa sama aku.”
“Lama banget kita nggak ketemu. Gimana kabarmu ?”
“Baik.”
Kami ngobrol di teras rumah karena Wina menolak aku ajak masuk ke dalam. Kami larut dalam obrolan yang sangat menyenangkan. Tak jarang, tawa meledak dari mulut kami berdua. Entah kenapa, saat ngobrol dengan Wina, aku bisa sejenak melupakan masalahku dengan Alya.
“Win, sekarang kamu kuliah di mana sih ? Aku jarang banget dapet kabar tentang kamu sejak kamu pindah dari Solo.”
“Aku sekarang kuliah di Semarang. Maaf banget deh jarang kasih kabar. Maklum, lagi sibuk banget sama tugas kuliah yang seabrek.”
“O iya. Ngomong – ngomong ada acara apa ni kok tumben ke Solo. Emang nggak kuliah ?”
“Kampusku lagi libur selama beberapa hari. Jadi aku sempetin maen ke Solo. Pengen ketemu kamu.”
“Ha ? Serius ?”
“Iya. Eh,Vin besok kamu sibuk nggak ?”
“Enggak kok. Ada apa ?”
“Temenin aku jalan – jalan ya.”
“Iya deh. Kebetulan aku besok nggak ada kuliah.”
“Ya udah deh. Kalo gitu aku balik dulu. Daa..” Wina beranjak dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan rumahku. Tapi belum lama dia pergi, aku memanggilnya lagi.
“Win ! Di sini kamu tinggal di mana ? Besok aku jemput !”
“Aku tinggal di rumah tanteku ! Besok aku jam 10 ke sini lagi, Vin ! Sampai ketemu besok !” balas Wina sambil berlalu dari pandangan mataku. Tak sabar rasanya besok jalan – jalan dengan Wina. Tapi Bagaimana dengan Alya ? Ah, lupakan Alya. Dia kelihatannya sudah tak punya keinginan untuk mempertahankan hubungan kami.
***
Esok yang ku tunggu tiba. “Masih pukul 8,” pikirku. Aku pun menyalakan TV yang ada di ruang tengah rumahku. Saat asyik nonton TV, tiba – tiba terdengar ada suara ketukan pintu. “Wina ? kan masih jam setengah 9. Pagi sekali,” ku pikir yang datang adalah Wina. Saat ku buka pintu rumah, ternyata bukan Wina, melainkan Alya. Segera ku suruh dia masuk. Tapi, dia menolak. Dia bilang dia hanya sebentar.
“Eh, masuk dulu Al,”
“Nggak usah, aku nggak lama kok.”
“Iya deh, ada apa ? Tumben maen ke sini. Kamu udah nggak marah ya ?”
“Udah enggak kok. Vino, aku ke sini pengen ngejelasin kelanjutan hubungan kita.”
“Maksud kamu ?” aku tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Alya.
“Kayaknya hubungan kita udah nggak bisa dipertahanin. Kita putus.”
Aku sejenak terdiam. Tapi, anehnya aku tak merasa marah mendengar ucapan Alya tadi. Apa karena ada Wina ? Aku sendiri tak tahu.
“Al, kalo menurut kamu itu adalah keputusan terbaik buat kita, aku terima. Maaf selama ini aku nggak bisa bikin kamu bahagia.” Kalimat itu spontan meluncur dari bibirku. Alya terlihat agak terpukul mendengar ucapanku.
“Ya udah deh. Aku pergi dulu. Daa Vino,” Alya pun pergi.
Aku pun masuk ke rumah melanjutkan nonton TV. Benar – benar tak ada rasa sedih, marah, ataupun menyesal dalam hatiku. Bahkan, aku merasa bebas saat Alya memutuskan hubungan kami. Perasaan yang bagiku sendiri aneh.
Jam di dinding menunjukkan pukul 09.30 menit saat kembali terdengar suara ketukan pintu. Aku bergegas berlari ke arah pintu dan saat ku buka, ternyata ada sosok Wina yang sudah berdiri di situ. Dengan memakai kaos warna biru langit, celana jeans hitam, dan sepatu keds warna putih, serta sebuah tas yang menggantung di bahunya, dia terlihat sangat manis. Benar – benar berubah daripada Wina yang dulu aku kenal.
“Hey, Vino. Ayo berangkat.”
“Lho. Kan masih jam setengah 9. Kok kamu udah ke sini ?” aku bingung dengan kedatangan Wina. Padahal janjinya, dia akan datang pukul 10.
“Males di rumah tante nggak ada kerjaan. Mending ke sini aja. Berangkat sekarang aja yuk.” Aku masih kagum dengan perubahan Wina yang sangat drastis.
“Vin ! Buruan sana siap – siap !”
“Eh, iya deh. Bentar ya.” Aku segera menuju ke kamar untuk ganti baju. Tak berapa lama, aku sudah memakai pakaian yang sudah ku persiapkan semalam.
“Yuk berangkat.” Ajakku ke Wina.
Saat aku melangkah untuk mengambil motor yang ada di samping rumah, Wina menarik tanganku.
“Kita jalan kaki aja. Aku pengen ngrasain kota Solo dengan jalan kaki.”
“Eng.. Ya udah deh. Yuk.”
Kami pun mulai melangkahkan kaki. Berjalan – jalan menikmati keramaian kota Solo. Tak terasa sudah seharian aku menemani Wina berkeliling kota Solo. Jalan kaki !
Karena lelah, aku mengajak Wina untuk duduk sejenak. Saat ku lihat wajah Wina, tak ada sedikit pun rasa lelah tampak di sana. Hanya ada raut wajah ceria dan sebuah senyuman yang sejak dulu sangat aku sukai.
“Win, kami cantik kalo senyum kayak gitu.” Godaku pada Wina.
“Idiihh… Vino.. baru tahu ya ? Kasian.. hahaha..” jawab Wina sambil tertawa.
Kami melanjutkan kembali jalan – jalan kami. Sampai tanpa terasa bumi sudah diselimuti gelap malam. Kami masih asyik bercanda di sepanjang jalan. Sampai tiba – tiba Wina menghentikan langkahnya. Raut wajah yang sebelumnya ceria tiba – tiba berubah menjadi raut wajah penuh pengharapan.
“Vin, waktu perayaan kelulusan SMA dulu, aku pernah berjanji sama kamu sebelum aku pergi. Di sini, disaksi’in sama pohon angsana ini, aku berjanji bakal balik lagi ke sini. Buat kamu. Dan sekarang, aku pengen kamu tahu kalau aku balik ke Solo, buat nepatin janji itu dan pengen ngungkapin isi hatiku yang udah aku pendam dari dulu.”
Wina menghela nafas panjang. Aku tak bisa mengucapkan apa pun mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Wina. Ingatanku pun melayang ke masa kelulusan SMA. Dan aku pun teringat pada apa yang Wina baru saja katakan. 2 tahun lalu, Wina pernah mengajakku ke sini. Tepat di mana kami sekarang berdiri sekarang. Aku pun teringat pada semua yang dulu Wina katakan. Kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Dan saat ini, keadaan itu kembali terulang.
“Vin, aku pengen kamu jadi orang terpenting dalam hidupku,” tiba – tiba Wina melanjutkan bicaranya.
“Aku pengen kamu jadi satu – satunya orang yang akan selalu ada buat aku.”
“Aku sayang sama kamu, Vino.” Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Wina langsung memelukku.
Aku tak bisa berkata apa – apa. Aku hanya memeluknya erat, pelukan yang datang dari hatiku yang paling dalam.
***
Esok harinya, saat di kampus aku tak terlihat seperti orang yang baru putus cinta setelah berpisah dengan Alya. Itu karena Wina yang semalam telah menyatakan semua isi hatinya padaku. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah kulupakan. Dan besok, dia berjanji kalau dia akan datang menemuiku lagi. Karena tak sabar, aku pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke kamar dan kulihat ada sebuah paket di atas kasurku. Ku ambil sepucuk kertas yang langsung ku baca dan ternyata pengirim paket ini adalah Wina. Di dalam kertas itu dia menuliskan…

Untuk Vino,
Vin, makasih karena kemaren kamu udah bela – belain temenin aku jalan seharian. Aku nggak bisa kasih apa – apa. Semoga kado ini bisa terus ngingetin kamu sama aku.

Yang menyayangimu,
Wina

Hatiku pun langsung melayang tinggi. Sangat tinggi sampai aku tak tahu sampai ke mana. Setelah aku dapat menguasai perasaanku, segera ku buka kado dari Wina. Ternyata sebuah jam tangan. Senang rasanya hatiku. Ku rebahkan tubuhku di kasur dan ku pejamkan mataku, berharap esok segera datang dan bisa kembali bertemu dengan Wina.
***
Keesokan harinya Wina yang ku tunggu, tak segera muncul. Sms yang ku kirim tak pernah dibalasnya. Panggilanku ke ponselnya pun tak pernah diangkatnya. Aku mulai khawatir dengan Wina. Karena sudah 2 jam lebih menunggu, ku putuskan untuk datang ke kediaman tante Wina, karena Wina pernah bilang kalau dia tinggal di rumah tantenya selama di Solo.
Saat aku tiba di depan rumah tante Ina, tantenya Wina, ku lihat pemandangan yang membuatku sangat gugup. Bendera kuning yang terpasang di gerbang masuk, kursi – kursi yang tertata rapi dan beberapa orang yang memakai pakaian hitam. Sayup – sayup terdengar alunan ayat – ayat suci Al – Qur’an dari dalam rumah tante Ina.
Saat aku mendekat ke pintu, ku lihat sesosok tubuh yang sudah terbaring di tengah – tengah orang – orang yang sedang membacakan Yaasin. Saat aku melangkah semakin dekat, aku melihat wajah sosok tubuh itu adalah wajah yang kemarin bersamaku seharian. Wina.
“Wina….” Suaraku lirih ketika tahu sosok yang sudah tak bernyawa itu adalah Wina. Tubuhku tak dapat bergerak. Tanpa terasa, ada cairan bening yang mengalir dari mataku. Aku menangis.
Tiba – tiba, seseorang bangkit dari duduknya, ternyata tante Ina. Beliau pun mengajakku duduk di samping jenazah Wina.
“Nak Vino, kuatin diri kamu ya.” Hibur tante Ina.
“Tapi tante, kenapa Wina pergi secepat ini ?”
“Nak Vino, sebenarnya Wina mengidap kanker darah dan dokter sudah memvonis kalau umur Wina sudah tidak lama lagi. Karena sudah mengetahui hal itu dari dokter, Wina memutuskan untuk pulang ke Solo. Dia bilang, dia pengen dimakamin di Solo, kota kelahirannya. Dia juga sempat cerita ke tante tentang kamu. Dia bilang kalau dia pengen menghabiskan saat – saat terakhir hidupnya bersama kamu.”
Setelah mendengar penjelasan tante Ina, tangisku semakin tak bisa ku tahan. Air mataku semakin deras mengalir mengiringi kepergian Wina. Wina yang baru saja mengisi hatiku.
***
Prosesi pemakaman Wina selesai pada sore hari. Beberapa Takzi’in sudah pergi. Tinggal aku sendiri yang masih berada di depan pusara Wina. Di dalam hatiku, aku masih belum percaya kalau Wina telah meninggalkan aku. Padahal, baru saja aku ingin memulai awal kisah baru dengan Wina. Kisah yang ingin kujadikan kisah abadi, yang ternyata harus pupus karena kehendak Yang Maha Kuasa.
Langit perlahan mulai tertutup mega mendung, seolah – olah ingin menemaniku menghabiskan saat – saat terakhirku bersama Wina. Air mataku tiba – tiba mengalir tanpa bisa ku bendung. Bersamaan dengan itu, hujan datang. Air mataku pun bercampur dengan air hujan yang kian deras mendera tubuhku.
Wina telah pergi untuk selamanya. Di sini, aku dilanda kesendirian. Hanya hujan yang setia menemani kesedihanku.
Share:

Cerita Tentang Kita | CHAPTER - 6, 'Preparation'

Title : Cerita Tentang Kita
Author : Nur Rochman | Twitter: @NVRstepback
Genre : Life, Romantis, Family

Nih chapter selanjutnya... Selamat membacaaa... ^^.


Chapter - 6

Kenzo sudah sampai di rumah. Sesuai pesan Alea, Kenzo pun mengirim sms ke Alea. Kemudian dia masuk ke rumah, minum obat kemudian istirahat. Tapi di pikiran Kenzo masih terbayang dua hal. Emily, dan… Rara! Dia merasa senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan cewek yang bisa membuatnya tertarik. Tapi di sisi lain dia merasa bingung kenapa Rara mengejarnya.
“Kok tadi si Rara aneh banget ya? Kan biasanya dia cuek banget sama gue. Lah ini tadi malah berubah agresif gitu.” Pikir Kenzo. Karena sudah terlalu lelah, Kenzo pun akhirnya tertidur.
Di tempat lain, Alea bersama teman-temannya sedang membantu Liana mengerjakan tugas dari Pak Darma. Dengan sabar Alea dan Gea membantu Liana yang begitu cerewet tanya ini itu. Sedangkan Emily sedang membuat kokat untuk keperluan makrab. Di wajah Emily nampak tersungging senyuman. Senyuman yang diakibatkan oleh efek berantai dari perasaannya terhadap Kenzo dan senyum Kenzo yang dia lihat sore tadi.
“Al, nih ada sms dari tadi lho. Gak mau dibuka?” tanya Emily sambil mengulurkan hp ke Alea.
“Paling dari kak Kenzo.” Kata Alea sambil menerima hp dari Emily. “Tu kan bener. Syukur deh kakak udah nyampe rumah.”
“Emang kak Kenzo kenapa Al?” tanya Emily penasaran.
“Ya dia kan baru keluar dari rumah sakit, udah naik motor. Kan aku khawatir. Besok makrab kayaknya dia gak ikut dulu deh, biar dipake buat istirahat.” Jawab Alea sambil membuka-buka buku.
“Kak Kenzo gak ikut makrab?” tanya Emily dengan nada kecewa.
“Ciee.. Ada yang kecewa nih kak Kenzo gak ikut makrab.” Celetuk Liana tiba-tiba.
“Ahh, dasar cerewet. Diselesaiin dulu tu tugas.” Kata Emily sewot. Alea dan Gea tertawa melihat pipi Emily yang memerah.
***
“Kakak!” panggil Alea yang daritadi menunggu di depan pintu.
“Eh, maaf Al kakak tadi dari kamar kecil. Jadi lama deh. Hehe.” Kata Kenzo sambil membuka pintu.
“Ihhh, kakak ni dasar.” Kata Alea sambil memencet hidung Kenzo. Kenzo pun berteriak kesakitan. Mereka pun bergegas masuk.
“Sakit Al. Aduuh. Oiya, tadi di rumah Liana gimana?” tanya Kenzo.
“Tugasnya Liana udah lumayanlah tinggal dikit.” Jawab Alea sambil duduk di sofa empuk di ruang keluarga. Kemudian menyalakan TV. Kenzo nampak sibuk membaca buku catatannya. Alea pun nampak penasaran.
“Baca apaan sih kak serius banget?” tanya Alea. Kenzo tak menjawab karena begitu fokus ke tulisan di buku catatannya.
“Kakaaak.” Panggil Alea agak keras sehingga Kenzo pun terkejut.
“Eh, kenapa Al? kok teriak-teriak segala. Biasa aja kali.” Kata Kenzo.
“Kakak sih ditanya biasa aja gak dijawab. Itu lagi baca apaan?” tanya Alea lagi.
“Oh, ini baca daftar perlengkapan buat acara makrab. Kayaknya perlengkapan yang buat peserta terlalu ribet deh.” Jawab Kenzo.
“Emang kenapa kak? Kakak mau datang ke makrab ya?” tanya Alea.
“Iya dong. Kan kakak ketua panitia, masa gak datang.” Kata Kenzo.
“Tapi kakak kan baru aja keluar dari rumah sakit, belum pulih betul. Kakak gak usah datang, istirahat di rumah dulu aja.” Kata Alea menasehati Kenzo.
“Tapi Al, sebagai ketua kakak harus…” kenzo mencoba menyanggah tapi keburu dipotong Alea.
“Pokoknya gak boleh! Kakak harus istirahat di rumah. Alea gak mau kakak kenapa-kenapa pas di acara makrab.” Kata Alea. Nampak di ujung matanya ada air yang siap tumpah.
“Yaudah, kalo gitu kakak nurut sama Alea. Kakak akan istirahat.” Kata Kenzo tersenyum sambil mengelus-elus kepala Alea. Alea pun tersenyum dan berusaha mengusap matanya.
“Tapi kakak mau minta tolong ke kamu Al.” kata Kenzo tiba-tiba.
“Minta tolong apa kak?” tanya Alea.
“Kakak udah bikin rancangan buat acara makrab malam terakhir. Ini nih rancangannya. Tolong besok kamu kasihin terus kamu jelasin ke wakil ketua panitia ya.” Kata Kenzo menjelaskan.
“Nahlo. Wakil ketuanya siapa?” tanya Alea bingung.
“Evan.” Jawab Kenzo singkat.
“Kak Evan?” tanya Alea lagi. Kali ini pipinya bersemu merah.
“Iya sayang. Kak Evan. Gimana? Mau nolongin kakak kan?” tanya Kenzo.
“Iya iya kakakku sayang. Besok Alea sampein. Emang besok kakak mau kemana?” tanya Alea.
“Besok kakak mau ke dokter. Mau kontrol.” Jawab Kenzo.
“Abis itu?” tanya Alea lagi.
“Ya pulang to ya. Mau nyicil ngerjain skripsi. Kakak kan udah semester 7, targetnya semester 8 kakak lulus.” Jawab Kenzo sambil tersenyum.
“Terus kalo udah lulus?” tanya Alea.
“Kakak pengen jadi system analyst kakak papa.” Kata Kenzo sambil memandang foto keluarga yang tergantung di tembok di hadapannya.
“Tapi kakak tetep di sini nemenin Alea kan?” tanya Alea sambil menggenggam tangan Kenzo.
“Iya adikku yang cantik. Kakak akan tetap di sini sama Alea.” Jawab Kenzo. Alea pun tersenyum. Kenzo kemudian memberikan rancangan acara tersebut ke Alea.
***
Hari Kamis, hari terakhir sebelum berangkat makrab. Di depan hall, nampak kelompok Alea sedang berkumpul untuk kliring masalah perlengkapan yang harus dibawa. Tapi ada satu orang yang sepertinya belum bergabung. Alea.
“Oke guys, kita hari ini kumpul untuk ngebahas perlengkapan yang mau kita bawa besok.” Kata Gian.
“Untuk kokat nama, udah slesai. Oiya, kalian bawa foto sesuai permintaan gue kan?” Tanya Emily. Gian pun mengumpulkan foto dari anggota kelompok dan menyerahkannya ke Emily.
“Oiya, si Alea kemana Mily? Kok gak ada?” Tanya Wisnu tiba-tiba.
“Katanya tadi mau ketemu kak Evan, nyerahin titipan dari kan Kenzo.” Jawab Liana.
“Titipan apa Li?” Tanya Wisnu lagi.
“Uh, dasar kepo loe ya. Ntar loe tanya Alea sendiri aja.” Jawab Liana sewot.
“Udah udah. Sekarang kita kroscek dulu ceklis perlengkapannya. Tika.” Panggil Gian ke Tika selaku penanggung jawab perlengkapan.
Tika pun mulai membaca satu persatu ceklis yang dia bawa, kemudian memberikan tanda cek ke peralatan yang sudah fix.
“Ok. Semuanya udah fix. Tinggal nempelin foto ke kokat aja. Umm.. Kalo kita tempel sekarang aja gimana?” tanya Tika ke Emily.
“Aduh, kokatnya gak aku bawa. Masih di rumah. Nanti sore aja ku tempelin sendiri.” Jawab Emily.
“Yaudah, kalo gitu kita bisa nglanjutin aktivitas. Gue duluan ya guys.” Kata Gian pamit seraya melangkah pergi. Diikuti Tika, Nissa, Venus dan Mars.
“Eh, loe masih di sini Nu?” tanya Liana ke Wisnu yang masih di tempatnya.
“Iya. Gue nungguin Alea.” Jawab Wisnu sambil tersenyum.
“Eh, loe Gea. Ngapain pipi loe merah gitu?” tanya Wisnu tiba-tiba ke Gea. Ternyata daritadi Gea memperhatikan Wisnu yang sedang tersenyum. Seketika Gea pun mengelak.
“Udah ah. Yuk Mily, Gea ke kantin.” Ajak Liana.
“Trus Alea gimana?” tanya Emily.
“Udah gue SMS. Yuk.” Jawab Liana. Tiba-tiba Wisnu menghentikan Liana.
“Eh, gue boleh minta nomor hpnya Alea gak?” tanya Wisnu.
“Dasar loe. Minta sendiri!” jawab Liana sewot kemudian pergi bersama Emily dan Gea meninggalkan Wisnu.
“Ya ampun. Tu cewek galaknya kayak singa. Yaudah lah. mending balik aja.” Kata Wisnu kemudian berbalik pergi.
Di tempat lain, Alea sedang bersama Evan. Mereka tampak canggung karena hanya ada mereka berdua. Sebenarnya, ketika datang tadi ada Wayan dan Tara. Tapi tiba-tiba mereka berdua pergi ketika Alea datang. Tapi sebenarnya mereka hanya berada di luar ruangan mencoba menguping perbincangan Evan dan Alea.
“Eng. Kak, ini ada titipan dari kak Kenzo. Rancangan acara malam terakhir makrab.” Kata Alea sambil menyerahkan lembaran kertas yang di-clip ke Evan.
“Iya. Makasih ya Al. Emang kak Kenzo gak dateng ke makrab?” tanya Evan.
“Aku gak bolehin kak. Biar kak Kenzo istirahat dulu supaya cepet pulih.” Jawab Alea.
“Oh. Iya bener. Tapi ntar dia di rumah sama siapa?” tanya Evan.
“Sendiri kak.” Jawab Alea singkat.
“Kasian kalo dia di rumah sendiri. Biar nanti gue, Tara, sama Wayan gantian ke rumahmu nemenin Kenzo.” Kata Evan.
“Lho. Emang gakpapa kak bolak-balik gitu?” tanya Alea.
“Gakpapa dong. Kan panitia.” Jawab Evan sambil tersenyum. Senyum yang membuat Alea semakin klepek-klepek.
“Eng. Yaudah kak. Alea pamit dulu ya, mau ke kantin.” Kata Alea pamit.
“Lho. Ke kantin sendiri?” tanya Evan. Alea menggeleng.
“Sama temen-temen kak. Mereka udah di sana. Tadi aku di sms Liana.” Jawab Alea kemudian melangkah keluar pintu. Sebelum meninggalkan ruangan itu, dia sempat melempar senyuman ke arah Evan. Tapi saat berbalik, Nampak Tara dan Wayan yang nyender di tembok. Alea pun memadang mereka dengan pandangan tajam.
“Kak Tara sama kak Wayan ngapain di situ? Nguping ya?” tanya Alea. Mendengar Alea, Evan pun mendekat.
“Hehe. Kita tadi kebetulan mau masuk, eh loe mau keluar Al.” kata Tara ngeles.
“Eh, dasar kunyuk sama kriting. Ngapain loe?” tanya Evan sambil mengulurkan tangannya meraih pundak Wayan.
“Kabur Tar!!” kata Wayan sambil berlari menjauh. Tara pun mengikuti Wayan yang sudah berlari mendahuluinya. Meninggalkan Evan dan Alea yang berdiri di depan ruang BEM. Lagi-lagi awkward moment terjadi antara Evan dan Alea. Mereka tak sadar ada seseorang yang sedang mengamati mereka berdua. Seseorang yang sama sekali tak mereka sadari.

bersambunggg.....

Itu dulu ya teman-teman.. Lanjutannya, segera.. ^^. 
Share:

[VID] Jason Mraz - I'm Yours (Ancur Version)

OK. Setiap denger lagu I'm Yours-nya Jason Mraz, 1 kata yang spontan terlontar: AMAZING! Lagu paling kece yang pernah mengalun di muka bumi ini! Yeahh! Setuju gak? Apaah? Gak setuju?! Mati aja loe!

Penampakan MR.A-Z di Pidio Aku Milikmu.. #TSSAAAHH

Nih, ada video Jason Mraz - I'm Yours yg Ancur Version. Eh NVR, kenapa posting yg Ancur Version sih? Terus kenapa? Problem? Ini blog siapa? Ya suka-suka gue dong mau posting yg Version kayak gimana.  Hihihi -SKIP- Gue sengaja posting yg ancur, buat hiburan aja. Lucu-lucuan gituu.. Daripada spaneng mikirin mantan yg udah dapet pacar baru *eh* -SKIP-

Udah ah, nih Pidionyahh.... Selamat Cengoo... XD


Nih liriknya nih...

Jason Mraz - I'm Yours

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you're so hot that I melted
I fell right through the cracks, now I'm trying to get back

Before the cool done run out I'll be giving it my bestest
And nothing's gonna stop me but divine intervention
I reckon it's again my turn to win some or learn some

But I won't hesitate no more, no more
It cannot wait, I'm yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you're free
Look into your heart and you will find love love love love

Listen to the music of the moment, people dance and sing
We're just one big family
And it's our God-forsaken right to be loved loved loved loved loved

So I won't hesitate no more, no more
It cannot wait, I'm sure
There's no need to complicate, our time is short
This is our fate, I'm yours

I've been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed

I guess what I be saying is there ain't no better reason
To rid yourself of vanities and just go with the seasons
It's what we aim to do, our name is our virtue

But I won't hesitste no more, no more
It cannot wait, 
I'm yours
Open up your mind and see like me
Open up your plans and damm your free
Look into your heart and you'll find the sky is yours
So please don't, please don't, please don't
There's no need to complicate cause our time is short
This o' this o' this is our faith
I'm yours

Boleh Lho, ketawa di kotak komentar... XD
Share: