Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Tumang Fair 2015, When I was There

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/t31.0-8/11950334_10203368702536583_4513143171366922858_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Ayo ke Tumang

Beberapa hari yang lalu, di desa Tumang ada pagelaran yang rame. Event taunan yang berlangsung tanggal 21-23 Agustus 2015 kemarin adalah event kedua setelah event pertama yang berlangsung sekitar bulan November 2014. Acara bertajuk "Tumang Fair" di mana di situ berbagai macam seni dan budaya yang ada di desa Tumang ditampilkan. Mulai dari seni kerajinan, seni pertunjukan, hingga budaya dan kuliner yang semuanya tumpah ruah dalam satu acara. Tumang Fair, sebuah medium untuk memperkenalkan Tumang. Juga bisa dikatakan sebagai sebuah "Pesta Rakyat" Tumang. (Eh, Tumang harusnya dusun ya?)

Event Tumang Fair pertama, saya belum sempat berkunjung karena memang sedang ada kesibukan. Tapi di Event kedua, yaitu Tumang Fair 2015 kemarin, saya berkesempatan melihat-lihat secara langsung seperti apa dan bagaimana acara berlangsung. Ya, meskipun hanya sebentar karena pekerjaan yang memaksa untuk lembur dan akhirnya pulang malam. Dan 1 kata yang bisa saya sampaikan... menarik.

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/t31.0-8/11879265_10203368703536608_2888215052095081686_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Wih, kacamatanya keren! #salahfokus

Hari pertama, tepatnya selepas isya', saya datang ke TKP yaitu arena balai desa Cepogo yang sudah disulap mirip bazar. Kalau dilihat-lihat, mirip seperti festival-festival yang ada di Jepang mengingat penataan stan yang memanjang di kiri kanan jalan. Bagian dalam gedung serba guna balai desa digunakan untuk arena bermain bagi anak-anak dengan berbagai macam permainan yang disediakan. Sementara halaman balai desa disulap menjadi arena pertunjukan dengan sebuah panggung yang dihias dengan berbagai pernak-pernik. Salah satunya tema Tumang Fair kali ini, yaitu "The Color of Tumang Culture". Sebuah misi untuk mempertunjukkan betapa berwarnanya budaya yang dimiliki oleh Tumang.

Acara yang saya lihat ketika datang adalah ketoprak yang bercerita tentang asal-usul dari desa Tumang. Cerita yang menarik karena saya yang notabene penduduk Tumang kurang tahu bagaimana asal-usul dari desa Tumang. Dan melalui acara ini, saya serta warga Tumang yang lain dapat lebih mengerti bagaimana asal-usul dari desa Tumang dengan sajian yang menarik.

Cerita diawali dengan adegan Kyai Rogosasi dan para santrinya yang sedang melaksanakan sholat. Selepas sholat dan sedang berdzikir, tiba-tiba muncul gangguan dari makhluk halus yang berusaha mengganggu kekhusyukan Kyai Rogosasi dan para santrinya dalam berdzikir dan menyebut asma Allah. Namun dengan pertolongan Allah, Kyai Rogosasi berhasil mengusir makhluk halus tersebut. Setelah selesai berdzikir, salah satu santri bertanya kepada Kyai Rogosasi tentang makhluk halus tersebut dan Kyai Rogosasi menjelaskan bahwa makhluk halus tadi dikenal dengan sebutan kemamang, yang mana menghuni wilayah yang sedang mereka tinggali saat ini. Sementara Kyai Rogosasi memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah pesantren dan pemukiman di tempat mereka saat ini, sesuai pesan gurunya yang memerintahkan beliau untuk mendirikan sebuah pesantren di sebelah timur gunung Merapi.

Cerita berlanjut dengan pencarian mata air suci yang akan digunakan untuk bersuci dan juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk. Serta bagaimana desa Tumang memiliki sebuah budaya yang menjadi ciri khas yaitu kerajinan tembaga dan kuningan.

Paguyuban ketoprak yang dipimpin langsung oleh beliau bapak Lurah memainkan lakon dengan baik sehingga memberikan tontonan yang bagus bagi pengunjung Tumang Fair yang setia menyaksikan ketoprak hingga akhir.

Hari kedua, yaitu hari Sabtu malam Minggu tanggal 22 Agustus 2015, saya lagi-lagi baru bisa datang selepas isya'. Dan malam tersebut diisi acara festival band dan musik dari band lokal dan juga bintang tamu. Ada 4 band lokal yang mengisi acara. Tapi karena datang terlambat, saya kebagian menyaksikan mulai dari band ke-2 yaitu band yang menamakan diri mereka The Indonesian Green (maaf kalo salah tulis). Band yang mengusung genre pop ini menyanyikan lagu dari band ternama Indonesia yaitu Superman Is Dead yang berjudul "Jadilah Legenda", tentu dengan sentuhan pop. Asik.

Band lokal lain yang tampil adalah The Kuningand dan Sedotan. Keduanya mengusung genre pop punk dan menyanyikan lagu dengan irama menghentak. Namun dengan permainan musik dari personilnya yang begitu baik dan padu, vokalis dari band tersebut bernyanyi dengan nada yang cukup rendah, sehingga kurang terdengar. Andai dinaikkan setengah atau satu nada, pasti akan terdengar lebih bagus. (Abaikan komentar ini)

Bintang tamu yang mengisi acara di malam kedua Tumang Fair 2015 ada 3, yaitu band dari UNSA-ASMI yang dipimpin oleh Arya Surendra, band humoris dengan musik menyenangkan dari UNS yaitu Fisip Meraung, dan artis ibukota yang dikenal melalui acara Miss Celebrity SCTV yaitu Christi Colondam.

Christi Colondam membawakan 3 buah lagu. Yang pertama adalah lagu berjudul "Tentang Rasa" dari penyanyi Astrid. Lagu kedua adalah single pertama dari Christi Colondam yang berjudul "Menaklukkan Hatiku". Lagu dengan nada yang ceria dan dibawakan oleh Christi dengan penampilan yang menarik. Lagu terakhir adalah versi cover dari lagu milik band legenda Indonesia Sheila on 7 "Itu Aku" yang diaransemen ke dalam genre bossanova yang mengalun namun dengan sentuhan beat-beat cepat.

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/t31.0-8/11934515_10203368711776814_2129477225460343096_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Christi Colondam, kyaaa~ cho kawaiii~

Bintang tamu kedua adalah band dari UNSA-ASMI yang membawakan lagu-lagu hits ciptaan Ahmad Dani yang dinyanyikan oleh artis-artis di bawah manajemen Republik Cinta dan satu lagu dari Iwan Fals yaitu Bento. Penonton diajak berjoget dan melompat dengan permainan rock dari grup band UNSA-ASMI.

Lalu bintang tamu yang ditunggu-tunggu, yaitu band humoris dari kota Solo yaitu Fisip Meraung. Fisip? Ya, karena mereka adalah mahasiswa FISIP UNS. Bintang tamu yang, menurut saya, paling berhasil menghidupkan suasana dengan memancing senyum dan gelak tawa para penonton dengan penampilan penuh humor mereka. Para "Gedang Rocker", sebutan bagi fans Fisip Meraung, pun ikut bernyanyi ketika three-person band itu mendendangkan lagu-lagu mereka. Acara sempat dihentikan sejenak karena ada keributan yang terjadi. Namun dapat dilanjutkan kembali setelah bapak Lurah naik panggung dan meminta pengunjung dan penonton untuk menjaga keamanan dan kondusivitas acara.

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/t31.0-8/11872294_10203368715656911_8575967980770815327_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Fisip Meraung yang raungannya bikin ketawa

Band terakhir yang memeriahkan malam minggu Tumang Fair 2015 adalah Takut Air, band reggae dari kota Boyolali. Lagu-lagu reggae hits tanah air dan juga lagu-lagu milik legenda reggae Bob Marley mereka bawakan dengan sangat menghibur. Membius penonton untuk ikut berjoget dan menikmati malam minggu yang semakin larut.

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xpf1/t31.0-8/11934487_10203368711616810_4088817805885912398_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Takut Air. Paling suka pas bawain Redemption Song.

Malam terakhir yaitu malam puncak dari Tumang Fair 2015 dilaksanakan prosesi pembagian trofi dan hadiah kepada para pemenang karnaval kebudayaan yang berlangsung tanggal 17 Agustus 2015. Ada pula acara dangdut yang diisi oleh seniman dangdut desa Tumang dan ditutup dengan pesta kembang api dan penerbangan lampion yang melibatkan seluruh elemen yang ada di Tumang Fair 2015.

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xtp1/t31.0-8/11864879_10203368721937068_7722554591378101360_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Fire in the hole!
https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xtp1/t31.0-8/11872139_10203368718896992_8042311927763468958_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Penerbangan Lampion di Malam Terakhir Tumang Fair 2015. Nggak ikut... T^T



===

Yak! Switch On! Dari yang saya lihat, antusiasme warga masyarakat Tumang terhadap event Tumang Fair 2015 sebenarnya cukup besar. Tapi entah kenapa antusiasme tersebut kurang  kelihatan pas ada acara di atas panggung. MC yang memandu acara dengan penuh semangat, yang sudah mencoba seinteraktif mungkin ke pengunjung ujung-ujungnya seperti ngomong sendiri. Sama juga pas acara festival band. Bintang tamu yang sudah berusaha seinteraktif mungkin pun tak luput dari "kacangisasi" penonton. Hanya beberapa penonton di baris paling depan yang ramai menjawab pertanyaan dari MC dan bintang tamu. Ya... begitulah.

Di event Tumang Fair 2015 ini, jujur saya terkesan dengan para panitia yang bisa mengorganisasi  acara dengan baik. Melihat bagaimana penataan stan, arena bermain, juga panggung pertunjukan. Juga bagaimana membuat jadwal kegiatan serta mengundang bintang tamu yang sangat menghibur. Tentu bukan perkara mudah mengorganisasi sebuah event sebesar Tumang Fair yang notabene baru berjalan untuk tahun kedua dan mendapatkan ekspektasi besar dari warga masyarakat Tumang.

Beberapa waktu lalu saya sempat stalking membaca posting di blog milik salah dua panitia Tumang Fair 2015 yang menyampaikan betapa beratnya tugas di balik layar Tumang Fair. Mulai dari padatnya agenda persiapan dari tidak tidur, tidak mandi, bolos kerja, bahkan lupa makan. Hingga tantangan yang cukup berat yaitu menghadapi ibu-ibu PKK mengenai biaya stan. Padahal anggaran yang ada pun sudah "ngepas" dan mepet. Tantangan lain yang datang yaitu ketika harus dicibir dan dianggap sombong karena tidak sempatnya membalas sapaan dari teman atau tetangga yang datang karena sibuknya mengurus acara. Well, sabar ya mas-mbak panitia. Kalian luar biasa!

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xft1/t31.0-8/11885691_10203368719817015_1916552642120408423_o.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9
Semut. Kimitachi wa sugoi desu!

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada selama acara Tumang Fair 2015, saya salut kepada Semut (Semangat Muda Tumang) selaku tim panitia yang dengan ikhlas mengorbankan waktu dan tenaga untuk mensukseskan acara ini. Semoga di tahun depan, Tumang Fair kembali hadir dengan tema yang lebih segar dan acara yang lebih menarik. Dan juga, Tumang dan budayanya semakin dikenal oleh khalayak luas.

Photos by Saiful Bahtiar

* Artikel ini bukannya gaya-gayaan penulis yang sok jadi jurnalis, tapi ini sekedar coretan dari saya sebagai penonton dan penikmat acara. Kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, maap ya.
Share: